Sumbawanews.com,- Laga antara Brasil dan Jepang menjadi sorotan utama babak 32 besar Piala Dunia 2026, menyusul pertemuan dua tim dengan narasi bertolak belakang di Stadion NRG, Houston, Selasa (30/6/2026) WIB. Selecao, juara dunia lima kali, datang dengan momentum membara setelah bangkit dari start terhambat, sementara Jepang berusaha mengakhiri kutukan tak pernah menembus perempat final sejak 1998.
Brasil, yang ditahan imbang 1-1 oleh Maroko di laga pembuka, merespons dengan dua kemenangan telak: 3-0 atas Haiti dan 3-0 atas Skotlandia. Kombinasi kecepatan Vinicius Junior dan kekuatan Matheus Cunha menjadi tulang punggung serangan tim asuhan Carlo Ancelotti, yang akhirnya mengungguli Maroko di puncak Grup C berkat selisih gol. Sejak Piala Dunia 1982, tim asal Amerika Selatan itu tak pernah gagal melangkah ke fase gugur—dan kini, dengan lima kemenangan dari enam laga terakhir, mereka percaya diri mengincar trofi keenam.
Di sisi lain, Jepang menunjukkan ketahanan luar biasa di Grup F. Meski tak pernah menang dalam tiga laga fase grup—bermain imbang 1-1 melawan Kosta Rika, kalah 2-1 dari Spanyol, dan menang 2-1 atas Kroatia—mereka tetap lolos sebagai runner-up berkat keunggulan fair play. Samurai Biru, yang sejak 1998 selalu tersingkir di babak 16 besar, kini menghadapi tantangan terberat: menghancurkan mitos bahwa mereka tak mampu melangkah lebih jauh di panggung dunia.
Pelatih Hajime Moriyasu tak hanya mengandalkan disiplin taktis dan kerja tim, tetapi juga semangat kolektif yang telah membawa Jepang mengejutkan dunia di Piala Dunia 2022. Kehadiran Takumi Minamino dan Ritsu Doan di lini depan, ditambah keandalan kiper Shuichi Gonda, menjadi kunci harapan mereka. Namun, menghadapi kekuatan individual Brasil—yang memiliki tiga pemain masuk daftar 10 besar pencetak gol terbanyak di babak grup—Jepang harus bermain dengan presisi ekstrem.
Statistik menunjukkan, dalam 10 pertemuan terakhir antara kedua tim, Brasil menang tujuh kali, Jepang menang dua, dan satu kali berakhir imbang. Tapi sejarah bukan penentu di Piala Dunia. Di Houston, di bawah sorotan jutaan mata dunia, Jepang punya kesempatan langka: membuktikan bahwa keberanian bisa mengalahkan keunggulan teknis, dan bahwa kutukan sejarah bisa dipecahkan dalam 90 menit.















