Sumbawanews.com,- Pertandingan babak 32 besar Piala Dunia 2026 di Stadion Houston, Amerika Serikat, Selasa (30 Juni 2026), menjadi sorotan ketika Brasil membalikkan kekalahan menjadi kemenangan 2-1 atas Jepang dalam adegan yang penuh ketegangan. Gol awal Kaishu Sano di babak pertama sempat membuat tim Samurai Biru memimpin, namun dua gol dalam waktu injury time—dari Casemiro dan Gabriel Martinelli—membawa Selecao melaju ke babak 16 besar.
Pelatih Carlo Ancelotti, yang baru saja mengambil alih timnas Brasil pada Mei 2025, tak menyembunyikan kekagumannya terhadap ketahanan mental para pemainnya. “Kami tidak kehilangan kesabaran. Kami punya banyak pilihan, baik di lapangan maupun di bangku cadangan. Jepang bukan lawan biasa—mereka terorganisasi, disiplin, dan bermain dengan intensitas luar biasa,” ujar Ancelotti dalam konferensi pers pasca-laga, seperti dikutip dari laman resmi FIFA.
Kemenangan ini tak lepas dari keberanian Martinelli, penyerang Arsenal yang menjadi pahlawan kemenangan. Golnya yang memecah keimbangan tercipta pada menit ke-93 setelah bola sempat membentur tiang gawang. “Saya tahu masih ada kesempatan. Yang penting, saya bisa membantu tim—baik di sisi kiri maupun di tengah,” kata Martinelli, yang kembali menunjukkan kualitasnya setelah sempat mengalami masa sulit di awal turnamen.
Casemiro, yang membuka skor bagi Brasil pada menit ke-90+1, menekankan bahwa kemenangan ini bukan soal teknik semata, tapi tentang jiwa tim. “Di Piala Dunia, kontribusi pemain cadangan bisa menentukan segalanya. Endrick bermain luar biasa, Martinelli kembali menunjukkan kelasnya, dan Rayan juga menjalankan perannya dengan sempurna. Ini semangat yang harus kita pertahankan jika ingin menjuarai turnamen ini,” ujar gelandang Manchester United itu.
Ancelotti juga mengungkapkan rencana cadangannya: menyimpan Neymar untuk perpanjangan waktu jika gol kedua tak segera tercipta. “Saya menahan Neymar untuk menit ke-105. Saya tak ingin mengganggu ritme tim yang sedang bermain baik. Dan untungnya, Martinelli datang menyelamatkan kami sebelum kami harus mengambil keputusan itu,” katanya.
Di sisi lain, pelatih Jepang Hajime Moriyasu mengaku kecewa namun tetap bangga. “Saya sangat kecewa kami harus berhenti di sini. Tapi para pemain telah memberikan segalanya—sama seperti yang mereka lakukan sepanjang perjalanan ini. Kami memberikan yang terbaik, dan meski hasilnya tak berpihak pada kami, ini adalah pelajaran berharga untuk masa depan,” ujar Moriyasu, yang menilai timnya mampu menahan dominasi Brasil hingga detik-detik akhir.
Dengan kemenangan ini, Brasil melangkah ke babak 16 besar untuk menghadapi pemenang laga antara Pantai Gading dan Norwegia. Sementara itu, Jepang harus mengakhiri ambisinya di Piala Dunia 2026—tak mampu melampaui catatan sebelumnya sebagai tim Asia yang pernah mencapai perempat final.
Kemenangan dramatis ini bukan sekadar hasil statistik, tapi bukti bahwa kekuatan mental, kepercayaan, dan kesabaran bisa mengubah takdir dalam sepak bola—bahkan ketika waktu hampir habis.















