Sumbawanews.com,- Kerumunan warga di Jalan Meruya Selatan, Jakarta Barat, meledak kemarahan setelah sebuah mobil listrik BMW menabrak seorang pengendara motor, lalu melarikan diri meski sudah dihentikan dengan pembatas jalan. Akibatnya, mobil berplat B 77 NRI itu tak bisa kabur—diamuk massa hingga hancur berantakan.
Kejadian bermula sekitar pukul 08.15 WIB, Senin (22/6/2026). Menurut Kanit Gakkum Satlantas Polres Metro Jakarta Barat, AKP Joko Siswanto, mobil listrik jenis sedan itu melaju dari arah utara ke selatan dengan kecepatan tinggi. Sejumlah pengendara motor yang melihat kejadian itu berusaha menghentikannya dengan meletakkan pembatas jalan, bahkan ada yang berdiri di depan mobil. Namun, sopir tetap menginjak gas, menabrak satu sepeda motor hingga pengendara terlempar, lalu terus melaju tanpa berhenti.
Rekaman video yang tersebar luas di media sosial memperlihatkan mobil BMW itu akhirnya terjebak di tengah kerumunan. Warga yang marah dan panik karena korban terlihat terluka, langsung menyerbu kendaraan itu. Puluhan tangan tak terima—memukul kaca, menghantam bodi, bahkan merobohkan spion dan atap mobil. Kaca belakang pecah berhamburan, bagian depan dan samping penyok parah, sementara ban depan kempes akibat tekanan massa.
Polisi yang datang sekitar 15 menit kemudian kesulitan membubarkan kerumunan. Petugas akhirnya berhasil mengamankan sopir, ASW, yang terlihat syok dan tak bisa menjawab pertanyaan. Mobil yang awalnya menjadi simbol kemewahan dan teknologi masa depan, kini hanya menyisakan rangka berkarat dan kaca yang berserakan di aspal.
Tak ada informasi resmi mengenai kondisi korban motor, namun saksi mata mengatakan korban dibawa ke rumah sakit terdekat dengan luka di kepala dan kaki. Sementara itu, polisi masih menyelidiki apakah sopir dalam pengaruh zat tertentu atau mengalami gangguan kesadaran saat kejadian.
Kasus ini memicu perdebatan sengit di media sosial. Sebagian warga memuji respons massa yang “menghukum” pelaku, sementara lainnya menyesalkan kekerasan yang melampaui hukum. Namun, satu hal yang tak terbantahkan: di jalanan Jakarta, kesalahan satu orang bisa berubah jadi amukan ribuan—dan mobil listrik seharga miliaran rupiah pun tak bisa menyelamatkan dirinya dari amarah rakyat.















