Sumbawanews.com,- Peningkatan drastis antrean orang tua mendaftarkan anak ke bimbel di Yogyakarta memicu kekhawatiran para pengamat pendidikan. Fenomena ini dipicu oleh kembali diberlakukannya Tes Kemampuan Akademik (TKA), yang membuat fokus belajar siswa bergeser dari pemahaman konsep menuju persiapan menghadapi ujian. Pengamat pendidikan Ina Liem menyatakan, masyarakat secara alami beradaptasi dengan sistem yang mengaitkan masa depan anak dengan skor tes, sehingga pembelajaran berubah menjadi “teaching to the test.”
Ina menjelaskan, ketika orang tua rela mengantre sejak subuh demi tempat bimbel, itu menandakan sistem pendidikan telah mengalihkan prioritas: dari apa yang benar-benar dibutuhkan siswa untuk berkembang, menjadi apa yang kemungkinan keluar dalam ujian. Ia mempertanyakan tujuan utama TKA—apakah untuk meningkatkan kualitas pendidikan atau hanya memperbaiki kemampuan siswa dalam mengerjakan soal tes. Menurutnya, munculnya industri bimbel yang semakin besar justru mengindikasikan bahwa asesmen nasional itu sendiri mungkin telah kehilangan arah.
Ina menyarankan agar TKA dihapus dan diganti dengan asesmen berbasis sekolah yang lebih kontekstual. Ia menekankan bahwa asesmen tetap diperlukan, tetapi tidak perlu diselenggarakan secara nasional dan serentak. “Biarkan sekolah menilai berdasarkan kebutuhan lokal mereka. Untuk pemetaan nasional, Asesmen Nasional (AN) sudah tersedia,” ujarnya. Ia juga mengingatkan bahwa keterampilan seperti berpikir kritis, kreativitas, dan adaptabilitas jauh lebih penting di era di mana AI mampu menggantikan tugas kognitif rutin, namun sistem pendidikan justru kembali mengutamakan skor ujian.















