Home Berita Nasional Balita Tewas Terjebak Lubang Proyek CSR di Tebet

Balita Tewas Terjebak Lubang Proyek CSR di Tebet

Sumbawanews.com,- Seorang balita berusia empat tahun, I (nama samaran), tewas setelah terjatuh ke dalam lubang sedalam empat meter di lokasi proyek pembangunan lapangan multifungsi di Jalan Manggarai Utara II, Tebet, Jakarta Selatan. Evakuasi berlangsung selama empat jam sebelum korban dinyatakan meninggal, pada malam hari, 27 Juni 2026.

Lubang yang menjadi tempat kejadian merupakan bagian dari konstruksi fondasi tiang penyangga struktur pelindung lapangan, yang rencananya akan berfungsi sebagai ruang olahraga mini, termasuk futsal, bagi anak-anak dan remaja di Kelurahan Manggarai. Proyek ini sepenuhnya dibiayai melalui program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR), bukan anggaran pemerintah daerah.

Menurut Lurah Manggarai, M. Arafat Dinsirat, pekerjaan fisik baru dimulai pada 25 Juni 2026—dua hari sebelum insiden terjadi. Lokasi sebelumnya merupakan taman milik Dinas Pertamanan dan Hutan Kota DKI Jakarta, yang dialihfungsikan sebagai area pembangunan. Ukuran lapangan yang direncanakan sekitar 25 meter x 10–12 meter, dirancang khusus untuk kebutuhan anak-anak, bukan pertandingan futsal dewasa.

Arafat menegaskan, kontraktor pelaksana dipilih langsung oleh perusahaan CSR tanpa campur tangan pemerintah kelurahan. Sebelum pekerjaan dimulai, kontraktor disebut telah memasang pagar seng mengelilingi area proyek sebagai langkah sterilisasi. Namun, pagar itu terbuka saat warga berupaya menolong balita yang terjebak, dan hingga kini belum dipasang ulang karena lokasi masih ditutup untuk kepentingan penyelidikan kepolisian.

“Kami sudah mengeluarkan surat imbauan agar warga tidak mendekati area proyek. Tapi tidak ada yang menyangka hal ini bisa terjadi,” ujar Arafat, Selasa (30/6/2026).

Target penyelesaian proyek semula ditetapkan pada Agustus 2026. Kini, seluruh aktivitas dihentikan sementara. Arafat menjanjikan akan memanggil kembali kontraktor untuk memperkuat pengamanan jika proyek direncanakan dilanjutkan—dengan komitmen lebih ketat terhadap aksesibilitas dan keselamatan publik.

Proyek ini awalnya dianggap sebagai upaya positif untuk mengurangi tawuran remaja di wilayah itu dengan menyediakan ruang bermain yang aman dan terawat. Namun, tragedi ini menggugah pertanyaan mendalam: seberapa kuat komitmen keselamatan dalam setiap inisiatif sosial yang mengklaim “untuk kebaikan bersama”?

Previous articleApple Naikkan Harga Mac, iPad, hingga Vision Pro Akibat Krisis Cip
Next articleRonaldo Pilih Messi dan Mbappe sebagai Dua Pemain Terbaik Piala Dunia 2026