Sumbawanews.com,- Atlet Australia Joanna Wietrzyk menjadi sorotan global setelah berhasil memenangkan kelas Pro Women di ajang Hyrox Beijing pada 12 September 2026, meski mengalami inkontinensia feses di tengah perlombaan. Meski insiden itu memicu kekhawatiran akan kontaminasi lintasan, Wietrzyk tetap menyelesaikan balapan hingga garis finis. Penyelenggara kemudian menutup dan mendisinfeksi sebagian area perlombaan. Melalui Instagram Story, ia hanya menyampaikan pesan “A win is a win” dan terima kasih kepada pendukungnya tanpa memberikan penjelasan lebih lanjut atau permintaan maaf.
Reaksi publik terbelah. Sebagian pengguna media sosial menilai tindakan Wietrzyk seharusnya dihukum dengan diskualifikasi instan, mengingat risiko kesehatan bagi peserta lain. Namun, banyak pihak justru memuji kegigihannya sebagai simbol semangat kompetisi Hyrox. Fitness influencer Andrew Hiller menyoroti kegagalan penyelenggara dalam menanggapi insiden secara tepat. Ia menilai Hyrox seharusnya segera menghentikan perlombaan, membersihkan lintasan, dan meminta maaf kepada semua atlet yang terpapar kontaminasi. Hiller menekankan bahwa 80 hingga 90 persen tanggung jawab jatuh pada penyelenggara, bukan atlet.
Pernyataan resmi Hyrox yang hanya menyatakan komitmen untuk terus memperbaiki prosedur pun menuai kritik tajam. Banyak yang menilai respons itu tidak cukup tanpa permintaan maaf atau jaminan tindakan tegas terhadap kejadian serupa di masa depan. Beberapa pihak bahkan mendesak agar penyelenggara memberikan kompensasi biaya kepada atlet yang terdampak. Hingga kini, tidak ada kebijakan resmi yang mengatur diskualifikasi dalam kasus buang air besar selama kompetisi, dan insiden ini memicu debat luas tentang standar kebersihan dan etika olahraga ekstrem.















