Home Berita Internasional AS Tembak Rudal, Kapal Iran Langgar Blokade Selat Hormuz

AS Tembak Rudal, Kapal Iran Langgar Blokade Selat Hormuz

Sumbawanews.com,- Ketegangan di Selat Hormuz meledak setelah Angkatan Laut Amerika Serikat menembakkan rudal Hellfire ke sebuah kapal tanker Iran yang diduga berusaha menembus blokade maritim di perairan strategis itu. Insiden itu terjadi pada Selasa (2/6/2026), memicu serangkaian serangan balasan dan memperdalam jurang diplomasi antara Washington dan Teheran.

Menurut Komando Pusat Militer AS (CENTCOM), kapal yang diserang adalah M/T Lexie, sebuah tanker kosong berbendera Botswana yang sedang menuju Pulau Kharg, pusat ekspor minyak utama Iran. Awak kapal, kata CENTCOM, mengabaikan sejumlah peringatan selama 24 jam sebelum rudal ditembakkan untuk melumpuhkan mesinnya—bukan untuk menenggelamkan, melainkan menghentikan pergerakan tanpa menimbulkan korban jiwa.

Serangan itu menjadi yang keenam terhadap kapal yang mencoba melintasi jalur maritim yang dibatasi AS sejak blokade dimulai pada 13 April lalu. Washington mengklaim telah mengalihkan 122 kapal lain yang berupaya masuk atau keluar dari pelabuhan Iran dalam periode yang sama.

Tak lama setelah serangan itu, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengumumkan telah meluncurkan serangan balasan berupa rudal dan drone terhadap markas Armada Kelima AS di Bahrain. Namun, CENTCOM membantah klaim tersebut. Menurut laporan resmi, dua rudal Iran gagal mencapai Kuwait, sementara tiga lainnya yang mengarah ke Bahrain berhasil dicegat oleh sistem pertahanan gabungan AS-Bahrain. Tiga drone serang satu arah juga ditembak jatuh saat berusaha menargetkan kapal-kapal sipil yang berlayar secara legal di Teluk.

Kuwait mengonfirmasi mencegat sejumlah puing rudal dan drone di wilayah udaranya, sambil mengimbau warganya menjauhi lokasi jatuhnya debris. Sirene peringatan berbunyi di Bahrain, menandai momen paling genting sejak eskalasi konflik di Timur Tengah memanas kembali.

Eskalasi ini terjadi di tengah upaya diplomatik yang sedang berjalan. Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menyatakan peluang kesepakatan dengan Iran masih terbuka, bahkan mengklaim Teheran kini terbuka membahas aspek program nuklir yang sebelumnya dianggap non-negotiable. Namun, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menegaskan bahwa gencatan senjata dengan AS harus mencakup seluruh medan konflik—termasuk Lebanon—dan menyalahkan Washington serta Israel atas pelanggaran yang terjadi di sana.

Di Lebanon, serangan udara Israel terus berlanjut meski Presiden AS Donald Trump sebelumnya mengklaim telah mencapai kesepakatan gencatan senjata antara Israel dan Hizbullah. Laporan dari Kantor Berita Nasional Lebanon menyebut sedikitnya 30 serangan udara terjadi pada hari yang sama, menewaskan enam anggota satu keluarga di dekat Sidon. Militer Israel menuduh Hizbullah melanggar kesepakatan dan mengeluarkan perintah evakuasi untuk warga Nabatiyeh menjelang operasi militer lanjutan.

Sementara itu, harga minyak dunia langsung merespons dengan kenaikan 4 persen, mengingat Selat Hormuz adalah jalur vital bagi 20 persen pasokan minyak global. Pasar saham Asia pun terpukul, sementara harga Bitcoin anjlok karena investor menghindari aset berisiko tinggi.

Eskalasi ini menunjukkan bahwa meski jalur diplomasi masih terbuka, kebijakan militer yang saling menantang telah menggantikan percakapan. Di tengah keheningan perundingan, peluru dan drone justru yang berbicara—mengingatkan dunia bahwa kawasan paling strategis di dunia itu masih menjadi bara yang siap meledak kapan saja.

Previous articleXiaomi Luncurkan 17T Series, Kamera Leica Jadi Andalan
Next articleKarangan Bunga di BGN Sampaikan Pesan Tersembunyi
Avatar photo
Jurnalis Jaringan Sumbawanews berkomitmen membangun jurnalistik sehat berlandaskan UU Pers No. 40/1999 dan UU KIP No. 14/2008. Kami menjunjung tinggi Kode Etik Jurnalistik dengan mengedepankan koordinasi, investigasi, dan verifikasi untuk menjamin akurasi informasi, integritas penulisan, serta tata bahasa yang baik