
Sumbawanews.com,- Ketegangan di Teluk Persia memanas setelah Angkatan Bersenjata Amerika Serikat melancarkan serangan udara terhadap Pulau Qeshm, sebuah pulau strategis di Iran yang menjadi basis operasional Garda Revolusi Islam (IRGC). Serangan itu, yang dikonfirmasi oleh Komando Pusat AS (CENTCOM), menargetkan fasilitas militer dan infrastruktur yang diduga digunakan untuk meluncurkan serangan terhadap sekutu-sekutu Washington di kawasan.
Tak lama setelah serangan AS, Iran membalas dengan meluncurkan puluhan drone dan rudal balistik menuju wilayah Kuwait dan Bahrain. Kedua negara itu langsung mengaktifkan sirene peringatan udara, meminta warga mencari perlindungan, sementara otoritas militer mereka melaporkan adanya upaya serangan udara yang berhasil diintersepsi sebagian oleh sistem pertahanan udara.
Krisis ini memperdalam siklus balas-membalas yang telah mengancam stabilitas regional sejak awal tahun. AS menegaskan serangannya adalah respons terhadap ancaman terus-menerus dari kelompok pro-Iran di kawasan, sementara Teheran menyebut serangan itu sebagai “pelanggaran berbahaya terhadap kedaulatan nasional” dan menjanjikan “konsekuensi tak terduga.”
Di tengah gejolak militer, Meksiko dan Kanada bergerak cepat untuk menawarkan jalan keluar diplomatik. Kedua negara secara resmi mengusulkan perpanjangan Perjanjian Perdagangan AS-Meksiko-Kanada (USMCA) selama 16 tahun ke depan, sebagai upaya memperkuat ikatan ekonomi regional dan mengurangi ketergantungan pada ketidakstabilan geopolitik yang dipicu oleh konflik Timur Tengah. Usulan ini muncul di tengah ketegangan perdagangan yang masih menghantui hubungan Washington dengan kedua mitra NAFTA tersebut.
Meski fokus dunia tertuju pada konflik militer di Teluk, upaya Meksiko dan Kanada menunjukkan bahwa blok ekonomi Amerika Utara berusaha mempertahankan kestabilan di luar wilayah konflik—sekaligus menjadi sinyal bahwa krisis geopolitik kini mengancam tidak hanya keamanan, tetapi juga perekonomian global.














