Sumbawanews.com,- Pentagon mengonfirmasi bahwa 18 personel militer Amerika Serikat tewas dan 624 lainnya terluka sejak dimulainya operasi militer terhadap Iran pada 28 Februari 2026. Data terbaru yang dirilis akhir pekan lalu memperbarui angka korban dengan menambahkan lebih dari 140 kasus luka-luka, termasuk empat tentara yang jenazahnya baru dipulangkan pada 22 Juli. Pemerintah AS mengklasifikasikan konflik terbaru yang dimulai 7 Juli sebagai operasi terpisah dari Operation Epic Fury, alasan yang dikaitkan dengan upaya menghindari batas waktu 60 hari yang diatur dalam War Powers Act 1973. Kebijakan ini memicu kritik tajam dari anggota Kongres, termasuk Thomas Massie, yang menuduh Pentagon sengaja membelah satu perang menjadi dua untuk mengelabui kewajiban hukum. Pemisahan kategori korban ini belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah pencatatan militer AS, dan memicu pertanyaan mendesak tentang transparansi serta kepatuhan terhadap konstitusi.















