Sumbawanews.com,- Presiden Donald Trump mengklaim konflik bersenjata antara Amerika Serikat dan Iran telah berakhir, menyatakan bahwa kedua belah pihak telah mencapai kesepakatan dasar untuk mengakhiri perang yang telah berlangsung hampir empat bulan. Pernyataan itu disampaikan Trump dalam siaran langsung selama kampanye di Georgia, Kamis (12/6), di mana ia menyebut Washington dan Teheran telah menandatangani “nota kesepahaman yang sangat kuat” sebagai kerangka menuju perdamaian permanen.
“Kita mengakhiri perang dengan Iran hari ini,” ujar Trump, dikutip dari Politico. Ia menegaskan bahwa kesepakatan itu mencakup penghentian total pengembangan senjata nuklir oleh Iran—bukan hanya penghentian sementara, tetapi larangan permanen terhadap produksi, pembelian, atau pengembangan apapun bentuk senjata nuklir. Selain itu, Trump menyebut pembukaan kembali Selat Hormuz sebagai salah satu hasil utama dari negosiasi tersebut.
Di Washington, pejabat Gedung Putih tidak memberikan konfirmasi resmi, tetapi menyatakan bahwa pembicaraan tingkat tinggi masih berlangsung. Sementara itu, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, mengakui bahwa kedua negara berada di “tahap akhir musyawarah internal,” namun menolak menyebut secara eksplisit bahwa program nuklir Iran akan dihentikan sepenuhnya. “Kami sedang mengevaluasi posisi pihak lain secara saksama, dan akan mengumumkan sikap resmi sesuai dengan kepentingan nasional kami,” kata Baghaei.
Konflik antara AS dan Iran memanas sejak Februari, ketika serangan udara massal oleh AS dan sekutunya, termasuk Israel, menghancurkan sejumlah fasilitas militer dan nuklir Iran. Teheran membalas dengan serangan rudal dan drone terhadap pangkalan AS di Timur Tengah serta target di Israel. Gencatan senjata sementara yang disepakati pada April lalu sempat meredakan ketegangan, tetapi tidak menyelesaikan akar masalah.
Kesepakatan yang kini disebut Trump sebagai “hampir final” menjadi titik balik yang belum pernah terjadi sejak runtuhnya Kesepakatan Nuklir 2015 (JCPOA). Namun, ketidakjelasan rincian teknis dan sikap ambigu dari pihak Iran membuat para analis tetap berhati-hati. Banyak yang mempertanyakan apakah pernyataan Trump lebih merupakan strategi politik menjelang pemilu, atau benar-benar mencerminkan kemajuan diplomatik yang berkelanjutan.
Sementara itu, di luar jalur resmi, tekanan internasional terus meningkat. Sekutu AS di Eropa dan Asia meminta transparansi, sementara negara-negara di kawasan Teluk menunggu kepastian bahwa keamanan maritim dan akses energi akan terjamin. Dengan Selat Hormuz yang kembali menjadi jalur strategis, dunia menanti tanda tangan resmi—dan apakah kesepakatan ini benar-benar akan bertahan, atau sekadar gema sementara di tengah badai geopolitik.

















