Sumbawanews.com,- Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan kesepakatan damai historis dengan Iran, yang menandai berakhirnya ketegangan berbulan-bulan di Timur Tengah dan membuka kembali Selat Hormuz bagi pelayaran internasional. Pengumuman itu disampaikan Trump melalui akun Truth Social pada Senin, 15 Juni 2026, menyatakan bahwa kedua negara telah mencapai gencatan senjata komprehensif dan sepakat menghapus semua blokade maritim yang selama ini menghambat arus perdagangan energi global.
Dalam pernyataannya, Trump menegaskan bahwa Selat Hormuz — jalur strategis yang menghubungkan Teluk Persia dengan Samudra Hindia dan menjadi saluran utama minyak dunia — akan segera dibuka tanpa pungutan atau pembatasan. “Kapal-kapal di dunia, nyalakan mesin Anda. Biarkan minyak mengalir,” ujarnya, menandai berakhirnya embargo Angkatan Laut AS yang telah berlangsung sejak serangan berskala besar oleh AS dan sekutu terhadap Iran pada 28 Desember 2025.
Konfirmasi resmi datang dari Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Kazem Gharibabadi, yang menyatakan kesepakatan itu telah ditandatangani setelah negosiasi intensif yang diprakarsai oleh Oman dan Pakistan. Pemerintah Tehran juga mengonfirmasi bahwa proses pembersihan ranjau laut di sekitar Selat Hormuz telah selesai, memastikan keamanan navigasi bagi kapal-kapal komersial.
Perjanjian ini tidak hanya mengakhiri konflik militer, tetapi juga membuka jalan bagi kerja sama ekonomi dan diplomasi yang lebih luas. Trump menekankan bahwa pencapaian ini adalah terobosan yang gagal diraih oleh para pendahulunya. “Banyak presiden mencoba berdamai dengan Iran. Semuanya gagal. Saya berhasil,” katanya, menambahkan bahwa kesepakatan ini akan menjadi fondasi bagi stabilitas jangka panjang di kawasan.
Perdana Menteri Pakistan, Shehbaz Sharif, sebelumnya juga mengumumkan kesepakatan tersebut melalui platform X, menyebut bahwa kedua belah pihak telah menghentikan semua operasi militer, termasuk di Lebanon, di mana pasukan pro-Iran dan pasukan AS pernah saling bersitegang. Kepala negara dari Uni Emirat Arab dan Oman juga disebut terlibat dalam mediasi, memainkan peran krusial sebagai juru damai.
Dampak langsung dari kesepakatan ini terasa di pasar global: harga minyak anjlok lebih dari 12% dalam sehari, sementara indeks saham energi melonjak. Pemerintah AS juga mengumumkan pencabutan sanksi terhadap sektor perbankan dan energi Iran, meski tetap mempertahankan pembatasan terhadap program nuklir militer.
Namun, Trump memperingatkan bahwa AS tetap siap bertindak jika Iran melanggar kesepakatan. “Kami bukan penjajah, tapi penjaga perdamaian. Dan jika perdamaian itu terancam, kami akan kembali datang — dengan kekuatan penuh,” ujarnya dalam wawancara eksklusif dengan The New York Times.
Kesepakatan ini dinilai sebagai momen paling signifikan dalam hubungan AS-Iran sejak perjanjian nuklir 2015. Meski banyak pihak menunggu verifikasi lebih lanjut dari para pakar keamanan, langkah ini telah mengubah peta geopolitik Timur Tengah dalam hitungan jam — dari kawasan yang terpecah oleh konflik, menjadi ruang yang berpotensi untuk pemulihan ekonomi dan kerja sama regional.

















