Sumbawanews.com,- Amerika Serikat dan Iran resmi menandatangani kesepakatan damai yang membuka kembali Selat Hormuz dan mengakhiri blokade maritim AS selama bertahun-tahun. Pengumuman itu dilakukan oleh Presiden AS Donald Trump dan Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif pada 14 Juni 2026, menyusul negosiasi intensif yang dimediasi oleh Islamabad.
Dalam unggahan di Truth Social, Trump menyatakan, “Kesepakatan dengan Republik Islam Iran telah SELESAI. Kapal-kapal dunia, nyalakan mesin Anda. Biarkan minyak mengalir.” Ia menegaskan pencabutan segera semua sanksi maritim AS, termasuk blokade angkatan laut yang selama ini menghambat lalu lintas perdagangan energi global. Pernyataan itu langsung memicu reaksi pasar: harga minyak mentah global turun 4 persen, sementara indeks S&P 500 naik 0,8 persen.
Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Kazem Gharibabadi, mengonfirmasi finalisasi nota kesepahaman (MOU) melalui siaran resmi IRIB. Ia menekankan bahwa kesepakatan ini bukan tanda kepercayaan, melainkan “dirancang di bawah rasa tidak percaya yang aktif.” Iran, lanjutnya, tidak akan memulai implementasi apa pun sebelum penandatanganan resmi di Jenewa, Swiss, pada 19 Juni 2026. Teks lengkap MOU akan diumumkan setelah proses itu selesai.
Perdana Menteri Sharif, yang memainkan peran kunci sebagai mediator, mengumumkan penghentian permanen semua operasi militer di berbagai front, termasuk di Lebanon, sekaligus menyampaikan apresiasi kepada Qatar, Arab Saudi, dan Turki atas dukungan diplomasi mereka. Diskusi pra-implementasi dijadwalkan berlangsung pekan ini.
Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, memposting di X (Twitter) bersama Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi: “Kesepakatan tercapai. Salam kepada Jenderal Diplomasi.” Sementara media pemerintah Iran menyatakan bahwa AS “terpaksa menerima pengakhiran perang”—sebuah frasa yang mencerminkan narasi domestik Teheran bahwa kesepakatan ini adalah kemenangan strategis, bukan kekalahan.
Kesepakatan ini menandai titik balik dramatis dalam hubungan AS-Iran yang selama puluhan tahun dipenuhi ketegangan, sanksi, dan ancaman militer. Trump, yang pernah menarik diri dari kesepakatan nuklir 2015 dan memicu eskalasi militer, kini mengklaim dirinya sebagai satu-satunya presiden AS yang berhasil mencapai perdamaian dengan Iran. “Banyak presiden mencoba, tapi gagal. Saya berhasil,” ujarnya, tanpa menyebut bahwa kebijakan sebelumnya justru sering kali memperdalam konflik.
Dengan dibukanya Selat Hormuz—salah satu jalur strategis pengiriman minyak dunia yang menghubungkan Teluk Persia dengan Samudra Hindia—ekonomi global diharapkan mendapat dorongan signifikan. Negara-negara pengimpor energi, termasuk China, India, dan Jepang, menyambut baik langkah ini sebagai sinyal stabilitas jangka panjang.
Namun, skeptisisme tetap menggantung. Para analis memperingatkan bahwa kesepakatan ini rapuh tanpa mekanisme verifikasi independen dan kepatuhan berkelanjutan dari kedua belah pihak. Bagi Iran, kepatuhan AS adalah syarat mutlak; bagi AS, pengawasan ketat terhadap aktivitas nuklir dan dukungan kelompok proxy tetap menjadi prioritas.
Diplomasi yang lahir dari ketidakpercayaan ini bukanlah akhir perjalanan, tapi awal dari ujian baru: apakah perdamaian yang dibangun di atas kecurigaan bisa bertahan lebih lama dari sekadar pernyataan pers.

















