Sumbawanews.com,- Wakil Presiden Amerika Serikat JD Vance mengakui adanya perbedaan pendekatan antara Washington dan Tel Aviv dalam menangani ancaman dari Iran, meski tujuan akhirnya sama: mencegah Teheran memiliki senjata nuklir. Dalam wawancara eksklusif dengan Fox News, Vance menekankan bahwa perbedaan itu bukan pada tujuan, tetapi pada cara mencapainya.
“Kadang yang berbeda hanyalah metodenya,” ujar Vance, menanggapi tekanan dari sekutu tradisional AS itu yang menolak negosiasi dengan Iran. Ia menegaskan, Presiden Donald Trump tetap membuka ruang bagi diplomasi—sebuah sikap yang jauh berbeda dari pendekatan militer yang kerap ditempuh Israel.
Pernyataan itu muncul di tengah ketegangan yang memanas setelah Vance secara terbuka mengkritik serangan berulang Israel terhadap Lebanon. Dalam konferensi pers di Gedung Putih, ia memperingatkan para pemimpin Israel agar tidak mengorbankan satu-satunya mitra strategis yang masih tersisa: Amerika Serikat. “Donald J. Trump adalah satu-satunya pemimpin dunia yang benar-benar bersimpati kepada Israel. Dan kebetulan, ia memimpin negara adidaya terkuat di muka bumi,” katanya. “Jika saya ada di kabinet Israel, saya tidak akan menyerang sekutu terkuat yang masih mendukung kita.”
Vance juga menyoroti ketergantungan Israel terhadap persenjataan buatan AS, mengingatkan bahwa keberlanjutan bantuan militer akan bergantung pada keselarasan kebijakan dengan Washington. “Mereka perlu menyadari bahwa tidak semua yang mereka inginkan bisa dipenuhi tanpa mempertimbangkan kepentingan jangka panjang Amerika,” tegasnya.
Kritik itu sejalan dengan pernyataan Presiden Trump sendiri dalam wawancara dengan Financial Times, di mana ia menyatakan bahwa Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu pada akhirnya tidak punya pilihan selain menerima kesepakatan yang ditawarkan AS kepada Iran. Pada 17 Juni lalu, kedua negara menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) damai secara virtual, dengan 14 poin utama yang dinilai sebagian besar menguntungkan Iran—terutama dalam hal pencabutan sanksi dan akses ke sistem keuangan global.
Meski MoU ini dianggap sebagai kemenangan diplomatik bagi Teheran, sumber di pemerintahan Israel mengaku sedang berupaya diam-diam mengubah isi kesepakatan yang masih dalam tahap perundingan selama 60 hari ke depan. Pertemuan lanjutan antara perwakilan AS dan Iran dijadwalkan berlangsung di Swiss akhir pekan ini.
Trump sendiri semakin gerah dengan lobi intens yang dilakukan Israel untuk menggagalkan kesepakatan. “Kadang kamu hanya perlu tenang dan pakai akal sehatmu,” ujarnya kepada NBC, menanggapi tekanan dari para pejabat Israel yang terus mendorong serangan militer.
Kepentingan strategis AS juga didorong oleh kekhawatiran akan krisis energi. Trump mengungkapkan bahwa cadangan minyak global akan habis dalam waktu empat pekan jika Selat Hormuz—jalur strategis pengiriman minyak yang dikuasai Iran—tetap ditutup. “Ada cadangan di seluruh dunia, tapi jika jalurnya tidak dibuka, kita akan benar-benar kehabisan. Dan saat itu tiba, tidak ada yang bisa menyelamatkan kita,” katanya, mengutip laporan The Hill.
Dengan langkah ini, AS tampak memilih jalur diplomasi yang berisiko tinggi namun berpotensi menstabilkan kawasan, sementara Israel tetap berpegang pada prinsip keamanan militer yang tak kompromi. Perbedaan strategi ini bukan lagi sekadar perbedaan pendapat—ia telah menjadi ujian terberat bagi aliansi AS-Israel selama puluhan tahun.















