Sumbawanews.com,- Gelombang ancaman bom palsu melanda hampir 30 penerbangan penumpang di Eropa pada Kamis, 5 November 2026, memaksa sejumlah pesawat dialihkan dan diawal jet tempur. Insiden ini terjadi dalam rentang waktu singkat, dengan laporan ancaman dikirim melalui email berjudul “Threat report” yang mengatasnamakan kelompok “Male State” dan menargetkan penerbangan dari Helsinki dan Dublin menuju bandara di Roma, Milan, dan tujuan lainnya. Pesawat Aer Lingus dari Dublin ke Roma dialihkan ke pangkalan udara Evreux, Prancis, sementara Finnair dari Helsinki ke Roma diawal jet tempur sebelum mendarat dan diperiksa tim penjinak bom. Otoritas di Denmark, Polandia, Rumania, Bulgaria, Spanyol, Republik Ceko, dan Italia juga melaporkan ancaman serupa, meski semua pemeriksaan akhirnya menemukan tidak ada bahan peledak.
Sejumlah negara Eropa, termasuk Denmark, Polandia, dan Jerman, menuduh Rusia berada di balik serangan hibrida yang bertujuan mengganggu stabilitas tanpa memicu respons militer langsung. Analis dari Osprey Flight Solutions menyebut keterkaitan ancaman bom dengan kampanye Rusia sebagai kemungkinan realistis, meski tidak menutup kemungkinan aksi individu atau peniruan insiden sebelumnya. Pengirim email yang mengaku dari “Male State” dibantah oleh Vladislav Pozdnyakov, pendiri kelompok antifeminis asal Rusia itu, yang menyatakan organisasinya sudah tidak aktif lagi. Reuters belum dapat mengonfirmasi independen siapa di balik email tersebut.
Penerbangan LOT dari Warsawa mendarat di Brussels, sementara tiga pesawat di Bulgaria—dari Kopenhagen, Madrid, dan London—menerima ancaman, dengan satu dialihkan ke Plovdiv. Di Spanyol, tiga penerbangan ke Madrid terdampak, namun otoritas memastikan tidak ada bahaya setelah pemeriksaan. Di Republik Ceko, empat pesawat tujuan Praha juga menerima ancaman, namun tidak ditemukan bahan peledak. Di Rumania, penerbangan Wizz Air dari Milan ke Bukares berhasil mendarat dengan selamat setelah menerima peringatan. Di Italia, dua penerbangan menuju Bandara Malpensa di Milan juga terkena ancaman, namun selamat.
Insiden ini merupakan gelombang kedua dalam sepekan, menyusul tujuh penerbangan dan satu kapal pesiar yang menjadi sasaran ancaman serupa pada Selasa, 3 November 2026. Maskapai Ryanair menjadi yang paling terdampak, dengan empat penerbangan menerima ancaman. Para pakar keamanan siber, seperti Eliran Almog dari Cyviation, mencatat pola serangan ini berdekatan dengan gangguan siber terhadap sistem pendingin supermarket di beberapa negara Eropa, menunjukkan upaya sistematis untuk mengganggu layanan publik dan menguji respons otoritas. Namun, belum ada bukti yang menghubungkan secara langsung ancaman bom palsu dengan serangan siber tersebut.















