Sumbawanews.com,- Krisis keuangan yang melanda bank digital Ueno memicu protes massal dan tekanan politik yang berujung pada pengunduran diri Presiden Paraguay Santiago Pena pada Kamis, 5 November 2026. Bank yang pernah menjadi simbol keberhasilan sektor keuangan negara itu tumbang akibat ketidaksesuaian solvabilitas, menyebabkan jutaan nasabah kehilangan akses terhadap simpanan mereka, termasuk dana pensiun milik lembaga negara.
Ueno, yang diluncurkan pada 2021 dan berkembang pesat menjadi bank berukuran menengah dengan 3 juta nasabah, gagal memenuhi persyaratan keuangan minimum setelah regulator menemukan praktik pemberian kredit berlebihan kepada perusahaan milik Grupo Vazquez, yang memiliki hubungan masa lalu dengan Pena. Bank Sentral Paraguay mengambil alih Ueno pada 3 November 2026, memicu kepanikan di kalangan nasabah dan demonstrasi di Asunción. Jaksa menyatakan Pena tengah diselidiki terkait dugaan konflik kepentingan dan penyalahgunaan dana publik, meskipun ia membantah memiliki hubungan langsung dengan bank tersebut.
Pena, yang terpilih sebagai presiden pada 2023 dan pernah menjadi pemegang saham Grupo Vazquez hingga Maret 2025, menolak tuduhan tersebut dan menyebut krisis ini sebagai masalah regulasi yang dimanfaatkan secara politis. Namun, tekanan terus meningkat setelah delapan eksekutif Ueno diperintahkan ditahan, dan Gubernur Bank Sentral Carlos Carvallo—yang sebelumnya memimpin Ueno—mengundurkan diri. Pemerintah kemudian menyetujui undang-undang untuk mempercepat pembayaran kepada nasabah yang terdampak, sementara otoritas berupaya memindahkan rekening mereka ke lembaga keuangan lain.
Krisis ini tidak mengindikasikan kelemahan sistem perbankan Paraguay secara luas, karena negara itu masih mempertahankan peringkat kredit layak investasi. Namun, reputasi ekonomi dan kepercayaan publik terhadap institusi keuangan dan pemerintah kini menghadapi ujian berat.















