Sumbawanews.com,- Pada 3 November 2026, Abdul El-Sayed, kandidat Partai Demokrat dari Michigan, memenangkan kursi Senat Amerika Serikat, menjadi Muslim pertama dalam sejarah negara itu yang duduk di lembaga tersebut. Kemenangannya terjadi meski ia menghadapi serangan massif terkait dugaan keterkaitannya dengan Ikhwanul Muslimin dan pengkhianatan dari rekan separtainya, Haley Stevens, yang justru mendukung lawannya, Mike Rogers. Hasil penghitungan sementara menunjukkan El-Sayed memperoleh 52,5 persen suara, mengalahkan Rogers yang meraih 45,5 persen, dengan 98 persen suara telah dihitung.
El-Sayed, 42 tahun, menghadapi kampanye yang dipenuhi tudingan agama dan politik. Presiden Donald Trump secara terbuka menyebutnya sebagai anggota Ikhwanul Muslimin dan jihadis selama kampanye di Port Huron pada 25 Oktober 2026, sementara Rogers mempertanyakan kesetiaannya terhadap keamanan nasional. Namun, pemeriksa fakta PolitiFact menilai klaim tersebut “Pants on Fire” — keliru secara ekstrem — karena tidak ada bukti El-Sayed pernah menjadi anggota organisasi tersebut. Ia juga membantah tudingan itu dan menegaskan penolakannya terhadap kelompok ekstremis.
Serangan politik diperkuat dengan surat tahun 2012 yang ditandatangani El-Sayed bersama 45 warga keturunan Mesir, yang mendukung proses transisi politik di Mesir pasca-revolusi 2011 dan pemerintahan Mohamed Morsi, tokoh yang terkait dengan Ikhwanul Muslimin. Meski surat itu tidak menyatakan keanggotaan, kubu Republik menggunakannya sebagai senjata politik. Lebih parah lagi, Haley Stevens, sesama Demokrat, berbalik mendukung Rogers, memicu kemarahan di kalangan pendukung El-Sayed yang menyebutnya sebagai pengkhianat.
Dalam pidato kemenangannya di Detroit pada dini hari 4 November, El-Sayed menanggapi serangan itu dengan tegas: “Kalian memilih kebencian, dan Michigan memilih harapan.” Ia menegaskan bahwa pemilih Michigan lebih memperhatikan kebutuhan ekonomi dan kehidupan sehari-hari daripada narasi ketakutan berbasis agama yang tidak berdasar. Kemenangannya menjadi simbol keberanian masyarakat Amerika menolak politik identitas yang memecah belah.















