Sumbawanews.com,- Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengakui bahwa serangan militer terhadap Iran menjadi salah satu faktor utama kekalahan Partai Republik dalam pemilu sela pada 3 November 2026. Serangan yang dilancarkan AS pada Februari 2026, didorong oleh ajakan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu untuk menggulingkan rezim Ayatullah Ali Khamenei, justru gagal mencapai tujuan utamanya. Khamenei tewas dalam serangan itu, tetapi kekuasaan langsung beralih kepada putranya, Mojtaba Khamenei, yang memperkuat perlawanan Iran dengan menyerang pangkalan AS di kawasan dan memblokade Selat Hormuz.
Kegagalan strategi militer ini memicu gejolak ekonomi di dalam negeri AS, termasuk lonjakan harga minyak yang membebani biaya hidup masyarakat. Pemilih AS menilai kebijakan luar negeri Trump sebagai faktor utama yang merugikan, sehingga Partai Demokrat berhasil menguasai 54 dari 100 kursi Senat dan 229 dari 435 kursi Dewan Perwakilan Rakyat. Meski penghitungan masih berlangsung, selisih kursi sudah tak terkejar oleh Partai Republik.
Trump, dalam wawancara dengan Fox News, mengakui bahwa isu Iran menjadi penentu kekalahan partainya, namun tetap membela keputusannya sebagai langkah yang diperlukan untuk mencegah Iran mendapatkan senjata nuklir. Ia bahkan memuji Partai Demokrat atas upaya mereka dalam kampanye, sebuah pernyataan jarang ia sampaikan. Kekalahan ini membuat Trump menjadi presiden “lame duck”, dengan kekuasaan legislatif yang kini berada di tangan oposisi, membatasi kemampuannya menjalankan agenda kebijakan.















