Sumbawanews.com,- Presiden Rusia Vladimir Putin menolak tudingan bahwa negaranya memicu gelombang demonstrasi besar-besaran di sejumlah kota utama Eropa. Dalam wawancara dengan VGTRK pada 25 Oktober 2026, Putin menyebut tuduhan itu sangat berlebihan dan tidak masuk akal. Ia menegaskan bahwa masyarakat Eropa sendiri dapat melihat betapa tidak berdasarnya klaim tersebut.
Putin mengungkapkan bahwa awalnya sejumlah pemimpin Eropa menyalahkan Amerika Serikat atas kerusuhan yang terjadi, terkait dukungan AS terhadap gerakan sayap kanan. Namun, menurutnya, sikap itu berubah cepat dan kembali menuding Rusia—padahal, tuduhan serupa telah berulang kali dilontarkan tanpa bukti. Ia menilai langkah ini sebagai bentuk kegagalan pemimpin Eropa dalam menganalisis akar masalah, dan lebih memilih mengalihkan kesalahan ke pihak luar.
Demonstrasi yang meluas di Prancis hingga Portugal, dengan tuntutan perbaikan pendidikan, kenaikan upah, dan penurunan biaya hidup, disebut Putin sebagai respons lokal terhadap tekanan sosial-ekonomi, bukan hasil intervensi asing. Menteri Luar Negeri Prancis Jean-Noël Barrot sebelumnya menuding narasi demonstran dipengaruhi oleh Rusia, China, Iran, dan gerakan MAGA, sementara Juru Bicara Kremlin Dmitry Peskov menegaskan tuduhan semacam itu dianggap tidak serius dan tidak masuk akal. Presiden AS Donald Trump, di sisi lain, menyalahkan migrasi besar-besaran sebagai penyebab gejolak tersebut.















