Sumbawanews.com,- Perhelatan KTT BRICS di New Delhi, India, pada Sabtu, 12 September 2026, berlangsung di tengah tekanan konflik global yang menguji kemampuan kelompok ini untuk menyatukan suara. Para pemimpin dari 11 negara anggota, termasuk Presiden Rusia Vladimir Putin, Presiden China Xi Jinping, dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian, berkumpul sambil menghadapi perbedaan kepentingan mendalam terkait perang di Ukraina, ketegangan Timur Tengah, serta rivalitas strategis antara Amerika Serikat dan China. Sebagai tuan rumah, India berupaya menyeimbangkan hubungan dekatnya dengan Rusia dan China sambil memperkuat kemitraan strategis dengan AS dan sekutu Barat.
Perbedaan sikap terhadap Iran dan Ukraina menjadi penghalang utama dalam mencapai kesepakatan bersama. China dan Rusia secara terbuka mendukung Iran, sementara India memilih pendekatan hati-hati. Di sisi lain, India tetap mempertahankan kerja sama energi dan pertahanan dengan Moskow, sekaligus memperdalam kemitraan keamanan dengan Washington. Konflik regional antara Iran dan Arab Saudi, serta persaingan antara India dan China, semakin memperumit upaya menyusun posisi bersama. Para analis menegaskan bahwa Global South bukan entitas yang seragam, sehingga BRICS sulit berperan sebagai penengah dalam konflik besar.
Bagi India, pertemuan ini menjadi peluang strategis untuk menata hubungan dengan China, yang baru saja mengirimkan















