Sumbawanews.com,- Harga minyak mentah Brent mendekati 109 dolar AS per barel pada Jumat, 11 September 2026, sementara harga solar di Amerika Serikat melonjak di atas 6 dolar AS per galon, memicu kekhawatiran akan kelangkaan bahan bakar dan tekanan inflasi global. Kenaikan tajam ini terjadi setelah serangan terhadap kapal dan fasilitas energi di Teluk memperparah gangguan pasokan, dengan lalu lintas kapal di Selat Hormuz menyusut hingga separuh dari rata-rata harian. Data menunjukkan hanya tujuh kapal yang melintasi jalur strategis itu pada Rabu, dari rata-rata 14 kapal dalam 10 hari terakhir, sementara ekspor minyak negara-negara Teluk kini hanya berkisar 15–16 juta barel per hari—sekitar dua pertiga dari level sebelum konflik. Wakil Presiden Senior Rystad Energy, Susan Bell, memperingatkan bahwa stok solar, bensin, dan bahan bakar jet telah turun ke tingkat kritis terendah sejak invasi Rusia ke Ukraina, meningkatkan risiko krisis energi yang meluas jika gangguan berlanjut hingga musim gugur dan dingin.















