Sumbawanews.com,- Bek sekaligus kapten Persija Jakarta, Rizky Ridho, akan menghadapi ujian berat saat timnya bertemu Persib Bandung di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Sabtu, 12 September 2026 sore WIB. Dalam sembilan pertemuan sepanjang kariernya melawan Maung Bandung, Ridho hanya sekali merasakan kemenangan—ketika membela Persebaya Surabaya pada 8 Desember 2021, saat timnya menang telak 3-0 di markas Persib. Sejak itu, catatannya terus memburuk: tiga kali imbang dan lima kali kalah, termasuk empat kekalahan dan dua seri bersama Persija, yang membuatnya belum pernah mengalahkan Persib sejak bergabung dengan Macan Kemayoran pada 2022.
Pertandingan pekan kedua Liga Super 2026/2027 ini menjadi kesempatan emas bagi Ridho untuk memutus kutukan pribadinya. Enam laga terakhirnya melawan Persib selalu berakhir tanpa kemenangan: imbang 1-1 di Jakarta (2 September 2024), kalah 1-2 di Bandung (9 Maret 2024), 0-2 di Bandung (23 September 2024), imbang 2-2 di Jakarta (16 Februari 2025), kalah 1-2 di Jakarta (10 Mei 2026), dan kalah 0-1 di Bandung (11 Januari 2026). Kekalahan terakhirnya melawan Persib terjadi hanya empat bulan lalu, membuat tekanan psikologis semakin besar.
Di sisi lain, Persija datang dengan senjata baru yang menggemparkan: striker asal Kroasia Ivan Mamut, pemain setinggi 1,92 meter yang mencetak 11 gol dalam musim 2025/2026. Kehadirannya di lini depan diharapkan bisa mengubah dinamika pertandingan, terutama mengingat Persija belum mampu menang atas Persib dalam empat tahun terakhir. Laga ini bukan sekadar duel antar-rival klasik, tapi juga momen pribadi bagi Ridho untuk membuktikan bahwa ia bisa mengubah sejarah—baik untuk dirinya maupun timnya.
Sementara itu, Persib yang konsisten menang dalam tiga pertemuan terakhir melawan Persija, akan berusaha mempertahankan dominasinya di atas tanah Jakarta. Dengan rekor head-to-head yang sangat tidak menguntungkan, Ridho dan rekan-rekannya harus tampil lebih tajam, lebih fokus, dan lebih berani jika ingin mengakhiri tren buruk ini. Di depan 80 ribu penonton di SUGBK, bukan hanya gelar yang dipertaruhkan, tapi juga harga diri seorang kapten yang ingin membuktikan bahwa ia bukan sekadar korban sejarah.















