Home Berita Internasional Ben Gvir dan Katz Dorong Pemindahan Paksa Dua Juta Warga Gaza

Ben Gvir dan Katz Dorong Pemindahan Paksa Dua Juta Warga Gaza

Sumbawanews.com,- Menteri Keamanan Nasional Israel Itamar Ben-Gvir dan Menteri Pertahanan Israel Israel Katz mengungkap rencana pemindahan paksa sekitar dua juta warga Palestina dari Jalur Gaza dalam waktu tujuh tahun. Rencana itu, yang dijelaskan sebagai solusi “realistis” untuk konflik Israel-Palestina, menargetkan 250.000 orang dikeluarkan pada tahun pertama, 1,1 juta dalam tiga tahun, dan hampir seluruh populasi Gaza—1,9 juta orang—dalam tujuh tahun. Ben-Gvir menyatakan akan membentuk kementerian khusus dan berupaya mengamankan kesepakatan dengan negara-negara lain untuk menampung pengungsi tersebut. Katz menegaskan bahwa tanpa migrasi ini, “tidak ada solusi nyata bagi Gaza,” dan mengaku pemerintah Israel siap menggunakan segala jalur—laut, udara, atau cara lain—untuk mewujudkannya.

Katz juga mengaku sedang berupaya memperoleh dukungan dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump, dengan menyatakan bahwa setiap negara yang bersedia menerima pengungsi Palestina menginginkan restu Amerika. Ia menekankan bahwa Trump belum membatalkan gagasan tersebut, hanya menangguhkannya, dan pembahasan terus berlangsung. Mesir, yang menurut Katz telah melobi Washington untuk menolak rencana ini, menjadi fokus utama upaya diplomasi Israel. Namun, rencana pemindahan paksa ini secara luas dikecam sebagai bentuk pembersihan etnis, sebuah tindakan yang dapat diklasifikasikan sebagai kejahatan perang.

Pernyataan kedua menteri ini muncul di tengah kampanye pemilu Israel yang sengit, di mana Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dan sekutu sayap kanannya memperkuat narasi keamanan dengan menyerukan tindakan lebih agresif terhadap Gaza. Netanyahu sendiri baru-baru ini menegaskan bahwa Israel tidak akan menarik pasukan dari garis batas Gaza sampai Hamas melucuti senjatanya, menegaskan tujuan akhirnya adalah demiliterisasi wilayah tersebut. Sementara itu, Ben-Gvir juga memicu kontroversi dengan pernyataannya bahwa ia bertanggung jawab penuh atas kondisi memprihatinkan di penjara wanita Israel, termasuk kurangnya perawatan medis, pakaian bersih, dan fasilitas mandi, yang ia anggap sebagai “akhir dari masa fasilitas nyaman.”

Previous articleLille Menang Tipis 1-0 atas Toulouse, Calvin Verdonk Tampil Keras Sebelum Diganti
Next articleRoy Suryo Tuntut Jokowi Hadir di Sidang Pokok Perkara Ijazah