Sumbawanews.com,- Bencana banjir bandang dan tanah longsor yang melanda perbatasan Nepal dan Tibet pada 26 Agustus 2026 telah menewaskan 1.003 orang, dengan 4.462 lainnya masih dinyatakan hilang. Bencana bermula dari retakan gletser di Gunung Langtang Lirung, Nepal, pada ketinggian 5.200 meter, yang memicu longsoran es dan batu besar berubah menjadi aliran puing mematikan. Gelombang lumpur dan air menerjang wilayah-wilayah di Nepal seperti Rasuwa, Nuwakot, Dhading, Kavre, dan Lembah Kathmandu, sementara di sisi China, perlintasan perbatasan Gyirong di Tibet hancur total. Di Nepal, 987 korban tewas terkonfirmasi, dengan 3.916 orang hilang—termasuk 639 pekerja pembangkit listrik tenaga air dan 583 warga negara asing. Di wilayah Tibet, otoritas China melaporkan 16 korban tewas dan 546 orang belum ditemukan, termasuk 261 warga asing. Sebagian besar warga asing yang hilang berasal dari India (275 orang) dan China (100 orang). Tim pencari dari China, Korea Selatan, dan India telah dikerahkan, tetapi medan ekstrem, jalan rusak, dan hancurnya infrastruktur membuat operasi penyelamatan sangat terhambat. Di Gyirong, tim harus berjalan kaki selama 10 jam untuk sampai ke lokasi, di mana tidak ada sisa bangunan atau infrastruktur yang tersisa. Nepal meminta bantuan lemari pendingin, perangkat DNA, drone, dan teknologi penginderaan jauh untuk menangani jenazah dan memetakan daerah terdampak.















