Sumbawanews.com,- I.League resmi mencabut aturan wajib memainkan pemain U-23 selama minimal 45 menit dalam setiap pertandingan Super League 2026/2027, keputusan yang langsung mengubah strategi pengembangan bakat muda di sepak bola Indonesia. Direktur Kompetisi I.League, Asep Saputra, menjelaskan bahwa pencabutan regulasi ini bukan berarti mengabaikan pemain muda, melainkan menggantinya dengan pendekatan berbasis kompetisi dan kualitas. Pemain U-23 kini harus bersaing secara terbuka dengan pemain senior, naturalisasi, diaspora, hingga pemain asing untuk mendapatkan tempat di starting XI, bukan sekadar memenuhi kuota regulasi. Untuk tetap mendorong partisipasi pemain muda, I.League akan memberikan insentif tambahan kepada klub yang konsisten memberikan menit bermain kepada U-23 sesuai standar minimal yang telah ditetapkan.
Asep menekankan bahwa perubahan ini terinspirasi dari model kompetisi top Eropa, di mana pemain muda muncul karena performa, bukan karena kewajiban hukum. Ia mencontohkan bagaimana klub-klub besar di Eropa mampu melahirkan bintang-bintang muda tanpa aturan khusus, karena persaingan internal yang ketat dan sistem pelatihan yang matang. Dengan demikian, I.League ingin menciptakan ekosistem di mana pemain muda yang bertahan di level tertinggi benar-benar layak, bukan hanya karena diwajibkan. “Yang berbeda adalah tidak ada lagi kewajiban 45 menit untuk pemain U-23 di starting line-up,” ujar Asep. Ia menambahkan, formulasi insentif bagi klub yang mendukung pemain muda telah disampaikan kepada seluruh tim peserta, dan akan segera diterapkan.
Super League 2026/2027 dijadwalkan kick-off pada 4 September 2026, dibuka oleh laga antara Bali United melawan PSS Sleman di Stadion Kapten I Wayan Dipta, Gianyar, Bali. Meski aturan wajib mainkan U-23 dicabut, target jangka panjang I.League untuk membangun generasi emas sepak bola Indonesia tetap sama—hanya saja, cara mencapainya kini lebih berfokus pada meritokrasi, bukan kuota.















