Sumbawanews.com,- Asosiasi Pesepak Bola Profesional Indonesia (APPI) mengungkapkan bahwa 28 klub dari berbagai kasta kompetisi, mulai Liga 1 hingga Liga 4, masih menunggak gaji pemain hingga total Rp14,8 miliar. Sebanyak 303 pemain menjadi korban keterlambatan pembayaran yang belum terealisasi, meski telah ada laporan maupun putusan dari NDRC. Data ini diungkapkan Legal APPI, Mohammad Agus Riza Hufaida, dalam diskusi di Kantor I.League, Jakarta, pada Senin, 31 Agustus 2026.
Klub-klub yang tercatat masih memiliki tunggakan antara lain PSM Makassar, Semen Padang, PSMS Medan, Persiku Kudus, PSIS Semarang, RANS FC, Sriwijaya FC, Persikota Tangerang, Persinab Sang Maestro, Persipa Pati, Persitara Jakarta Utara, Persibo Bojonegoro, Persekat Tegal, Persiwa Wamena, Persid Jember, PS Siak, Bantul United, PSM Madiun, Depok Raya FC, Kalteng Putra, Pakuan City, Persewar Waropen, Persikab Kabupaten Bandung, PSGJ Cirebon, Persikabo 1973, dan Waanal Brother FC. Riza menekankan bahwa pembayaran gaji bukan sekadar kewajiban administratif, tetapi hak dasar yang harus dipenuhi sebelum keringat pemain kering, mengacu pada prinsip etika kerja yang dijunjung tinggi.
APPI menyoroti kasus PSBS Biak sebagai contoh paling mengkhawatirkan. Masalah pembayaran di klub tersebut sudah muncul empat bulan sebelum akhir musim kompetisi sebelumnya, namun hingga kini belum terselesaikan. Riza menilai hal ini bertentangan dengan upaya membangun kompetisi sepak bola Indonesia yang berkelas, terutama di Liga 1. “Kita mau membawa liga naik kelas, tapi masalah dasar seperti ini masih jadi beban. Harusnya sudah kita tinggalkan bertahun-tahun lalu,” ujarnya.
Untuk mencegah pengulangan, APPI mendorong penerapan standar lisensi klub yang lebih ketat, termasuk prinsip zero tolerance terhadap klub yang gagal memenuhi kewajiban finansial kepada pemain. Di musim sebelumnya, hanya tiga klub di Liga 1 yang bermasalah—PSBS Biak, PSM Makassar, dan Semen Padang—namun kini jumlahnya melonjak signifikan. Riza berharap musim depan, khususnya di kasta tertinggi, tidak ada lagi kasus tunggakan gaji. Menurutnya, ini bukan sekadar soal keuangan, tapi soal integritas dan masa depan sepak bola profesional di Indonesia.















