Sumbawanews.com,- Lionel Messi mengumumkan pensiun dari sepak bola internasional pada Senin, setelah Argentina kalah 0-1 dari Spanyol dalam final Piala Dunia 2026 di MetLife Stadium, East Rutherford, New Jersey. Keputusan itu diambil setelah pemain berusia 39 tahun itu membawa Timnas Argentina ke partai puncak dengan delapan gol dan dua assist, namun gagal meraih gelar kedua berturut-turut setelah menang di Qatar 2022. Dalam unggahan Instagram, Messi menyebut keputusan ini sangat menyakitkan, tetapi ia yakin ini adalah waktu yang tepat untuk menyerahkan tongkat estafet kepada generasi muda.
Messi, yang debut bersama Argentina pada 2005, menyelesaikan karier internasionalnya dengan 207 penampilan dan 125 gol—rekor terbanyak sepanjang sejarah tim nasional itu. Ia mempersembahkan Piala Dunia 2022, serta dua gelar Copa America pada 2021 dan 2024, mengubah persepsi publik yang dulu kerap membandingkannya dengan Diego Maradona. Kekalahan di final 2026 menjadi puncak emosional: Messi terlihat menangis saat menerima medali runner-up, sementara duka pribadi akibat kematian ayahnya, Jorge Messi, pada Agustus lalu, semakin memperberat beban hatinya. Ia pernah mengaku ragu melanjutkan karier setelah kehilangan sang ayah, dan kini ia memilih berhenti—bukan karena kekalahan, tapi karena ia merasa telah memberikan segalanya.
Dalam pernyataannya, Messi menegaskan cintanya pada seragam Argentina tak pernah pudar, bahkan di masa-masa sulit sebelum trofi-trofi itu datang. Ia juga mengapresiasi para pemain muda yang kini siap menggantikannya. Mantan rekan setimnya, Ángel Di María, mengungkapkan rasa terima kasih atas keputusan Messi untuk tetap membela negara kelahirannya, meski sempat punya peluang membela Spanyol setelah pindah ke Barcelona di usia 13 tahun. Presiden FIFA Gianni Infantino memuji Messi sebagai salah satu pemain terbaik sepanjang sejarah, sementara Presiden Argentina Javier Milei hanya menyampaikan singkat: “Terima kasih banyak, pria luar biasa.”
Pensiunnya Messi bukan sekadar kehilangan seorang pemain legendaris—ini adalah akhir dari sebuah era yang membangkitkan harapan, kebanggaan, dan air mata bagi jutaan orang di seluruh dunia. Seperti setelah Maradona pergi, Argentina kini harus belajar hidup tanpa wajah yang selama 21 tahun menjadi simbol kebanggaan nasional.















