Sumbawanews.com,- Persib Bandung resmi membuka musim 2026/2027 BRI Super League dengan misi mengejar gelar keempat berturut-turut, setelah sukses meraih tiga juara beruntun pada 2023/2024, 2024/2025, dan 2025/2026. Laga pembuka mereka akan digelar di Gelora Bandung Lautan Api pada 6 September 2026 pukul 19.00 WIB melawan PSM, sebelum menghadapi ujian berat di pekan kedua: derby kontra Persija Jakarta di Stadion Gelora Bung Karno pada 12 September 2026 pukul 15.30 WIB. Di tengah jadwal yang padat, Maung Bandung juga harus memikul beban sebagai wakil Indonesia di AFC Champions League Two, yang memaksa pelatih Bojan Hodak mengandalkan rotasi ketat demi menjaga konsistensi di dua kompetisi sekaligus.
Musim ini diprediksi menjadi yang paling menantang sejak tiga-peat terakhir. Rival-rival disebut telah berbenah dan siap menghentikan dominasi Pangeran Biru. Derbi melawan Persija di GBK menjadi titik awal yang menentukan, bukan hanya karena gengsi, tapi juga karena tekanan psikologis yang tinggi di kandang lawan. Selain itu, sebagian besar laga Persib dijadwalkan malam hari pukul 19.00 WIB, kecuali laga tandang ke GBK dan Garudayaksa FC yang berlangsung siang hari pukul 15.30 WIB, menambah kompleksitas strategi pemulihan dan persiapan tim.
Agenda kompetitif Persib semakin berat dengan jadwal yang tersebar dari Jawa hingga luar pulau. Setelah derby, mereka akan menghadapi Persijap di Bumi Kartini (20/9/2026), lalu menjamu Dewa United dan Persik di kandang (11/10 dan 18/10/2026), sebelum bertandang ke Madura (22/10/2026). Di penghujung bulan Oktober, mereka akan bertemu Garudayaksa FC di Pakansari, lalu menghadapi Isenmulang Kalteng FC (1/11/2026) dan Java United (8/11/2026) di kandang lawan. Setiap laga menjadi ujian fisik dan mental, terutama dengan perjalanan jauh antar pulau yang menguras stamina pemain inti.
Dengan tuntutan berlaga di kancah Asia, keberhasilan Persib tidak hanya bergantung pada kualitas individu, tapi juga kecermatan manajemen rotasi dan pemulihan. Bojan Hodak kini diuji bukan hanya sebagai pelatih, tapi sebagai arsitek strategi yang mampu menjaga keseimbangan antara ambisi gelar domestik dan eksistensi di level kontinental. Musim 2026/2027 bukan sekadar kelanjutan dominasi — ini adalah ujian ketahanan sejati.















