Sumbawanews.com,- Hanya tiga hari setelah dilantik, Presiden Kolombia Abelardo De La Espriella menghadapi bencana pertamanya: gempa bumi magnitudo 7,4 yang mengguncang negara itu pada Senin, 10 Agustus 2026. Pusat gempa berada di wilayah barat, meruntuhkan bangunan di Pereira dan Cali, menewaskan setidaknya 132 orang serta melukai 570 lainnya. Dalam pidato nasional yang disampaikan lima setengah jam setelah gempa, De La Espriella menetapkan status darurat nasional dan menjanjikan bantuan segera bagi korban, termasuk subsidi sewa bagi warga yang kehilangan rumah. Ia langsung melakukan kunjungan lapangan ke Quibdo dan Cali, sementara pemerintah berfokus pada penyelamatan korban yang masih terjebak di bawah puing.
De La Espriella, yang baru saja dilantik di Cali pada 7 Agustus 2026, dikenal dengan julukan “El Tigre” dan memenangi pemilu dengan janji kebijakan keras terhadap kelompok bersenjata, pemangkasan belanja pemerintah hingga 40 persen, serta pengembangan industri minyak dan gas melalui teknik fracking. Ia menolak pendekatan damai pendahulunya, Gustavo Petro, dan menyatakan bahwa “pilihan untuk berdialog sudah sepenuhnya tertutup”. Ia juga berkomitmen bergabung dengan “Shield of the Americas”, koalisi regional yang didukung Amerika Serikat, serta memutus hubungan diplomatik dengan Kuba dan Nikaragua.
Kemenangannya menjadi bagian dari gelombang kemenangan konservatif di Amerika Latin pasca kembalinya Donald Trump ke Gedung Putih pada Januari 2025. Trump secara terbuka mendukung De La Espriella selama kampanye, dan pemerintah AS langsung merespons dengan komitmen bantuan keamanan senilai US$1 miliar—yang masih menunggu persetujuan Kongres—serta bantuan kemanusiaan senilai US$15,5 juta pasca gempa. Badan Geologi Kolombia mencatat 21 gempa susulan hingga malam harinya, dengan peringatan bahwa risiko gempa lanjutan masih tinggi.
Di tengah duka, protes pecah di Cali, Bogota, dan Barranquilla, menunjukkan belahan ideologis yang dalam di negara itu. Para pengamat memperingatkan bahwa retorika tegas De La Espriella belum diiringi rincian kebijakan yang konkret, sehingga tantangan memimpin Kolombia yang terpecah akan sangat berat.















