Sumbawanews.com,- Kebakaran hutan di Prancis memicu fenomena langka berupa awan pyrocumulonimbus, yang kemudian menghasilkan petir dan memicu titik api baru di luar area kebakaran awal. Fenomena ini terjadi setelah kobaran api membakar lebih dari 420 kilometer persegi hutan dan semak belukar di wilayah Gironde sejak 22 Juli 2026, memaksa 220.000 orang mengungsi dan merusak lebih dari 240 rumah. Awan raksasa berbentuk kumulonimbus itu terbentuk pada 24 Juli pukul 18.20, saat panas ekstrem dari api mengangkat asap dan uap air ke atmosfer, menciptakan muatan listrik yang memicu sambaran petir. Ahli meteorologi Theodore M. Giannaros menjelaskan bahwa pyroCb bukan sekadar dampak sampingan, melainkan sistem cuaca mandiri yang mengubah arah dan kecepatan api, membuat pemadaman menjadi semakin sulit.
Awan tersebut terbentuk karena kondisi atmosfer khusus: udara panas dan kering di permukaan bercampur dengan lapisan udara dingin dan lembap di atas, memicu konveksi kuat yang mengubah asap menjadi awan badai. Ketika uap air membeku menjadi kristal es di lapisan atas, tumbukan antar kristal menghasilkan petir—proses yang sama seperti badai biasa. Petir yang jatuh di area yang sudah kering memicu kebakaran baru di luar jangkauan petugas pemadam. Fenomena ini, yang sebelumnya jarang tercatat di Eropa, kini muncul di Prancis setelah sebelumnya hanya terjadi di Australia dan Amerika Utara.
Federasi Nasional Pemadam Kebakaran Prancis menyatakan belum pernah mengalami kejadian serupa di negara itu. Kondisi iklim yang semakin panas dan kering di Eropa, terutama sejak dekade 1980-an, meningkatkan risiko terbentuknya pyroCb. Proyek penelitian ROSETTA kini berusaha mengumpulkan data jangka panjang untuk memahami apakah fenomena ini mulai menjadi tren. Para ilmuwan menekankan bahwa kebakaran ekstrem kini tidak hanya dipengaruhi cuaca, tetapi menciptakan cuacanya sendiri—membuat respons darurat menjadi jauh lebih kompleks.















