Sumbawanews.com,- Wakil Menteri Sosial Agus Jabo Priyono menemui Heru Baskoro (84), putra pengetik naskah Proklamasi Sayuti Melik, yang kini menjalani perawatan di Sentra Terpadu Pangudi Luhur (STPL) Bekasi. Heru dan istrinya, Treyzia Noviani (65), dievakuasi dari kontrakan gang sempit di Rawalumbu pada Senin, 13 Juli 2026, setelah kondisi kesehatan mereka memburuk dan kebutuhan dasar tak terpenuhi. Keduanya akan mendapat pendampingan menyeluruh, termasuk rehabilitasi medis dan psikososial, serta jaminan kebutuhan sehari-hari selama masa perawatan.
Heru sempat hidup mapan selama 26 tahun menetap di Kanada, sejak 1998 hingga 2024, sebagai staf senior di perusahaan minyak dan penduduk tetap Amerika Serikat. Namun, setelah kembali ke Indonesia pada 2024, gangguan mata kanannya memburuk, menyebabkan kehilangan penglihatan. Dana pensiunnya tak lagi bisa dicairkan, memaksa pasangan lansia itu menjual seluruh aset demi biaya pengobatan. Operasi kornea di Jakarta pada 2021 gagal memulihkan penglihatannya, dan sistem kesehatan Kanada menolak mengganti biaya yang telah dikeluarkan.
Kini, Heru mengidap diabetes dan gejala demensia, sementara mata kirinya juga mulai kehilangan fungsi. Satu-satunya harapan pengobatan adalah operasi kornea buatan, yang hanya tersedia di Kanada, Amerika Serikat, atau Jerman. Prosedur itu sempat dijadwalkan akhir Juli 2026, tetapi terhambat keterbatasan biaya. Istrinya mengaku bantuan datang dari tetangga, gereja, Islamic Center, dan teman-teman di Indonesia maupun Kanada, yang membantu makanan, listrik, dan biaya kontrakan.
Kemensos berkoordinasi dengan Kementerian Luar Negeri, KBRI, dan Kementerian Kesehatan untuk menyelesaikan masalah pencairan dana pensiun Heru tanpa memaksa ia kembali ke Kanada, mengingat kondisi kesehatannya yang rentan. Pemerintah masih menunggu hasil koordinasi lintas kementerian dan keluarga untuk menentukan langkah terbaik.















