Home Serba Serbi Tekno Bogor Tak Lagi Sejuk, Ini Penyebabnya

Bogor Tak Lagi Sejuk, Ini Penyebabnya

Sumbawanews.com,- Suhu rata-rata tahunan di Bogor terus meningkat sejak awal 1990-an, mengubah citra kota ini sebagai destinasi sejuk yang dikenal dengan hujan rutin dan udara sejuk. Kini, siang hari sering terasa terik dengan suhu mencapai 32–34 derajat Celsius, sementara curah hujan menurun signifikan.

Menurut Givo Alsepan, dosen Geofisika dan Meteorologi IPB University, fenomena ini bukan sekadar fluktuasi cuaca biasa, melainkan hasil akumulasi dua faktor besar: perubahan iklim global dan transformasi bentang alam perkotaan. “Suhu rata-rata Bogor dulu berkisar 25,5–27 derajat Celsius. Kini, trennya terus naik,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Kamis, 2 Juli 2026.

Fenomena El Nino yang sedang berlangsung di Samudra Pasifik tropis turut memperparah kondisi. Saat El Nino aktif, pusat pembentukan awan bergeser ke timur, mengurangi pasokan uap air ke Indonesia. Akibatnya, tutupan awan menipis, radiasi matahari lebih bebas menyentuh permukaan bumi, dan suhu udara melonjak—terutama dalam jangka pendek.

Namun, Givo menekankan bahwa El Nino hanyalah pemicu sementara. Akar masalah yang lebih dalam adalah pemanasan global yang telah mendorong kenaikan suhu rata-rata Bumi secara berkelanjutan selama tiga dekade terakhir. “Jika tidak ada intervensi serius, tren ini akan terus berlanjut,” katanya.

Di tingkat lokal, urbanisasi pesat menjadi faktor penguat. Kawasan perkotaan Bogor berkembang cepat, terutama antara 1997 dan 2007, dengan lahan hijau digantikan beton, aspal, dan bangunan tinggi. Data penelitian Nurwanda dan Honjo (2018) menunjukkan selisih suhu antara kawasan urban dan suburban meningkat dari 1,36 derajat Celsius pada 1990 menjadi hampir 2,26 derajat Celsius pada 2017—gejala klasik *urban heat island*.

“Pohon bukan sekadar hiasan kota. Ia adalah pendingin alami, penyerap karbon, dan pelindung terhadap panas ekstrem,” ujar Givo. Ia menyerukan perlunya strategi tata ruang berbasis iklim, perluasan ruang terbuka hijau, dan insentif bagi bangunan ramah lingkungan. Masyarakat, kata dia, juga bisa berkontribusi lewat penghijauan rumah, taman vertikal, dan pengurangan penggunaan material yang menyerap panas.

Tanpa langkah konkret, Bogor—kota yang dulu menjadi pelarian dari panasnya ibu kota—berisiko kehilangan identitasnya sebagai oasis sejuk di Jawa Barat.

Previous articleClaude Fable 5 Kembali Dibuka Setelah Tiga Pekan Diblokir AS
Next articleAS Berpesta Kemerdekaan, Paus Leo XIV Memilih Berdiri di Pulau Penuh Derita