Home Berita Internasional AS dan Arab Saudi Retak atas Rencana Serang Iran, Trump Ancam Hentikan...

AS dan Arab Saudi Retak atas Rencana Serang Iran, Trump Ancam Hentikan Bantuan Senjata

Sumbawanews.com,- Hubungan militer antara Amerika Serikat dan Arab Saudi mengalami tekanan serius setelah Riyadh menolak mendukung operasi militer AS bernama Project Freedom, yang bertujuan membuka kembali Selat Hormuz dari gangguan Iran. Presiden Donald Trump dikabarkan mengancam akan menangguhkan pengiriman sistem senjata strategis ke Kerajaan Arab Saudi sebagai respons atas penolakan itu.

Operasi Project Freedom, yang diluncurkan awal Mei 2026, melibatkan lebih dari 100 pesawat militer AS, kapal perang, drone, dan sistem bawah laut yang dikerahkan untuk mengawal kapal dagang di Teluk Persia. Tujuannya jelas: menjamin keamanan jalur pelayaran internasional setelah Iran meningkatkan serangan terhadap armada komersial dan asing di kawasan itu.

Namun, Arab Saudi, yang menjadi mitra strategis Washington dan lokasi pangkalan militer penting, menolak memberikan akses wilayah udara dan basisnya kepada pasukan AS. Menurut laporan The Wall Street Journal, Putra Mahkota Mohammed bin Salman secara langsung menyampaikan kekhawatirannya kepada Trump bahwa operasi tersebut justru akan memperdalam konflik dengan Teheran, bukan menyelesaikannya.

Kekhawatiran Riyadh bukan tanpa dasar. Pada 27 Maret 2026, Iran melancarkan serangan rudal dan drone terhadap Pangkalan Pangeran Sultan di Saudi, menghancurkan pesawat pengawas strategis Boeing E-3 Sentry milik AS—insiden yang memperkuat keyakinan Riyadh bahwa keterlibatan langsung AS di wilayahnya akan menarik balasan lebih besar.

Dengan penolakan Saudi, Project Freedom terpaksa dihentikan. Washington, yang mengandalkan basis logistik dan udara di Timur Tengah untuk operasi jarak jauh, berada di posisi dilematis. Dalam responsnya, Trump mengisyaratkan bahwa bantuan militer besar-besaran yang selama ini mengalir ke Riyadh—termasuk sistem pertahanan udara, rudal balistik, dan pesawat tempur canggih—akan ditinjau ulang, bahkan dihentikan jika Saudi terus menolak koordinasi militer.

Sementara itu, Arab Saudi justru memperkuat sinyal diplomasi dengan Iran. Dalam beberapa pekan terakhir, Riyadh dikabarkan telah memulai pembicaraan tertutup dengan Teheran untuk meredam ketegangan, sebuah langkah yang menandai pergeseran strategis signifikan dari sekutu lama AS.

Perpecahan ini bukan hanya soal taktik militer, tapi juga refleksi perubahan geopolitik: sekutu tradisional AS mulai memilih keamanan regional melalui dialog, bukan konfrontasi. Dan di tengah ketidakpastian itu, Washington harus memilih antara mempertahankan pengaruhnya atau mempertahankan loyalitas sekutu—dua hal yang kini tampak saling bertentangan.

Previous articleNASA Luncurkan Empat Misi Bulan Bersama Tiga Perusahaan Swasta
Next articleKemhan Ganti Latihan Militer SPPI dengan Pembekalan Manajerial