Sumbawanews.com,- 2 Juli 2026 | 07.21 WIB
Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA) resmi menunjuk tiga perusahaan swasta—Astrobotic, Firefly Aerospace, dan Intuitive Machines—for melaksanakan empat misi ke permukaan Bulan pada akhir 2028. Misi-misi ini menjadi bagian integral dari program Moon Base, yang bertujuan membangun pangkalan permanen pertama NASA di luar Bumi.
Kontrak senilai hampir US$600 juta diberikan kepada ketiga perusahaan tersebut untuk mengirimkan muatan ilmiah ke Bulan. Astrobotic memperoleh dua misi dengan nilai kontrak US$297,9 juta, sementara Firefly Aerospace dan Intuitive Machines masing-masing mendapat satu misi senilai US$144,2 juta dan US$148,3 juta. Semua misi dilaksanakan di bawah program Commercial Lunar Payload Services (CLPS), pilar utama strategi NASA untuk membangun kehadiran berkelanjutan di satelit alami Bumi itu.
NASA menekankan bahwa misi-misi ini akan menggunakan versi terbaru dari wahana pendarat yang telah teruji sebelumnya. Pendekatan ini dirancang untuk meningkatkan frekuensi peluncuran sekaligus mempercepat pengembangan teknologi pendaratan yang lebih andal. “Kami sedang membangun tempat uji coba untuk operasi Moon Base,” kata Ryan Stephan, Pelaksana Tugas Direktur Wahana Pendarat Kargo Moon Base NASA. “Dengan lebih banyak peluang peluncuran, kami bisa belajar lebih cepat, menyempurnakan sistem, dan terus meningkatkan kemampuan kami di lingkungan Bulan.”
Setiap misi akan membawa tiga instrumen ilmiah standar: Stereo Camera for Lunar Plume Surface Studies (SCALPSS) untuk mempelajari dampak semburan mesin pendarat terhadap debu Bulan, Laser Retroreflector Array (LRA) untuk navigasi dan penentuan posisi presisi, serta Linear Energy Transfer Spectrometer (LETS) yang mengukur intensitas dan jenis radiasi di permukaan satelit tersebut. NASA juga mempertimbangkan penambahan muatan baru, termasuk rover hibrida PROMISE—yang dikembangkan dari teknologi rover Mars Perseverance dan Curiosity—untuk menjelajahi kutub selatan Bulan dan mengidentifikasi potensi sumber daya air es.
Selain itu, NASA membuka peluang bagi industri antariksa AS untuk mengajukan proposal guna mengirimkan teknologi sistem daya, avionik, pencitraan optik di kutub selatan, hingga konstelasi satelit relai komunikasi yang akan menghubungkan infrastruktur Bulan dengan Bumi. “Dengan menerbangkan instrumen yang sama di berbagai wahana, kami tidak hanya memahami risiko pendaratan, tetapi juga membangun jaringan data lingkungan dan penanda lokasi yang konsisten di seluruh Bulan,” ujar Joel Kearns, Deputy Associate Administrator for Exploration pada Science Mission Directorate NASA.
Langkah ini menandai percepatan ambisi jangka panjang NASA untuk menjadikan Bulan sebagai basis operasional sekaligus laboratorium alamiah bagi misi masa depan ke Mars dan luar angkasa lebih jauh. Dengan keterlibatan sektor swasta, NASA tidak hanya memperkuat kapasitas teknis, tetapi juga membangun ekosistem ekonomi antariksa yang berkelanjutan.















