Sumbawanews.com,- Zlatan Ibrahimovic menyuarakan kekecewaan tajam terhadap gaya bermain Timnas Belanda di Piala Dunia 2026, menilai bahwa tim Oranye telah kehilangan identitas klasiknya di bawah arahan Ronald Koeman. Kekalahan 2-3 lewat adu penalti dari Maroko di babak 32 besar menjadi puncak kekecewaan yang sudah lama dirasakan sang legenda sepak bola.
Dalam laga yang berlangsung di Stadion Nasional, Belanda tampil sangat defensif, hanya melepaskan enam tembakan—dua di antaranya mengarah ke gawang—sementara Maroko yang lebih agresif mencatat 11 tembakan, lima di antaranya tepat sasaran. Gol awal Cody Gakpo tak mampu bertahan, karena Maroko menyamakan kedudukan di injury time, lalu menang dalam adu penalti setelah laga berakhir imbang 1-1 hingga perpanjangan waktu.
Ibrahimovic, yang pernah membela Ajax pada masa awal karier, tak segan menyebut taktik Koeman terlalu kaku dan mirip gaya sepak bola Italia—bermain untuk tidak kalah, bukan untuk menang. “Ini bukan sekolah Belanda. Di Belanda, kita diajarkan menyerang, menyerang, dan menyerang. Bukan bersembunyi di belakang,” ujarnya, seperti dikutip dari Football Italia.
Ia menekankan, kekalahan boleh saja terjadi, tapi jangan sampai mengorbankan jati diri. “Kalau Anda akan kalah, kalahlah dengan kebanggaan Anda. Jangan ubah identitas Anda hanya karena takut kalah.”
Kritik Ibrahimovic bukan sekadar komentar emosional, tapi refleksi atas perubahan filosofi sepak bola Belanda yang selama puluhan tahun dikenal dengan permainan menyerang, kreatif, dan penuh keberanian. Di bawah Koeman, tim yang pernah menjadi raksasa dengan gaya “Total Football” justru terlihat kehilangan nyawanya.
Tak lama setelah kekalahan itu, Ronald Koeman, pelatih berusia 63 tahun yang menangani Belanda selama empat tahun, mengumumkan pengunduran dirinya. Ia juga memberi isyarat bahwa ia mungkin akan mengakhiri karier kepelatihannya yang telah berlangsung selama 26 tahun.
Kepemimpinan Koeman memang penuh kontroversi. Meski berhasil membawa Belanda lolos ke putaran final dengan posisi teratas di Grup F, gaya bermainnya kerap dianggap terlalu konservatif oleh para pengamat dan mantan pemain. Kritik dari Ibrahimovic—seorang ikon yang tak pernah ragu menyuarakan pendapat—menjadi semacam elegi atas hilangnya semangat sepak bola Belanda yang dulu memukau dunia.















