Sumbawanews.com,- Anggota Kongres Amerika Serikat dari Partai Republik, Tom Kean, mengungkapkan bahwa ketidakhadirannya selama 117 hari di parlemen disebabkan oleh perawatan intensif akibat depresi berat. Kean, yang mewakili daerah pemilihan di New Jersey, kembali tampil di sidang DPR pada Selasa, 30 Juni 2026, setelah absen dari lebih dari 140 pemungutan suara tanpa penjelasan resmi sebelumnya.
Dalam pidato yang penuh emosi, Kean, 57 tahun, mengaku baru menyadari betapa kompleksnya penyakit mental itu ketika mengalaminya secara pribadi. “Banyak orang mengira depresi hanya berarti merasa sedih. Padahal, depresi jauh lebih dari sekadar itu,” ujarnya, mengutip pengalaman pribadinya yang memaksa dirinya dirawat inap di rumah sakit.
Sejak awal, ketidakhadirannya memicu spekulasi luas di kalangan politik dan media. Stafnya sebelumnya hanya menyatakan bahwa Kean menghadapi “masalah kesehatan pribadi,” tanpa rincian lebih lanjut. Namun, tekanan dari rekan-rekan Partai Republik—yang khawatir kursinya bakal direbut Demokrat pada pemilu paruh waktu November mendatang—mendorongnya untuk bersikap terbuka.
Kean kini sedang mencalonkan diri untuk masa jabatan ketiga. Ia baru saja memenangkan pemilihan pendahuluan partainya sebagai satu-satunya kandidat, namun daerah pemilihannya yang termasuk *swing district* membuat kursinya menjadi salah satu yang paling strategis dalam pertarungan menguasai Kongres. Jika ia kalah, Partai Demokrat berpotensi memperkuat kendali mereka atas Senat dan DPR, sekaligus melemahkan posisi Presiden Donald Trump menjelang pemilu presiden 2028.
Dokter yang merawatnya menilai rawat inap sebagai cara tercepat untuk memulihkan kondisinya. Kean mengakui bahwa dirinya tidak menyangka pemeriksaan awal atas keluhan kesehatan fisiknya akan berujung pada perawatan jangka panjang. “Saya pikir ini hanya masalah lelah. Ternyata, tubuh dan pikiran saya memberi sinyal yang jauh lebih serius,” katanya.
Kean menjadi salah satu tokoh politik tinggi di AS yang secara terbuka membicarakan kesehatan mental sebagai alasan absen dari tugas publik. Pengakuannya dianggap sebagai langkah berani di tengah stigma yang masih melekat di lingkungan politik, sekaligus menjadi pengingat bahwa tekanan jabatan bisa menggerogoti kesehatan jiwa, bahkan pada individu yang tampak paling tangguh.
Dengan kembalinya Kean ke ruang sidang, sejumlah rekan sesama anggota Kongres menyambutnya dengan tepuk tangan—sebuah simbol bahwa perjuangan melawan depresi, sebagaimana perjuangan politik, juga membutuhkan keberanian dan empati.















