Sumbawanews.com,- Amerika Serikat melancarkan serangan udara terhadap lokasi penyimpanan rudal dan drone Iran pada Jumat, 26 Juni 2026, sebagai respons atas serangan drone Teheran terhadap sebuah kapal kargo di perairan strategis sehari sebelumnya. Serangan itu dilakukan oleh jet tempur siluman F-35A Lightning milik Angkatan Udara AS, yang menargetkan tidak hanya fasilitas penyimpanan senjata, tetapi juga situs radar pantai di dekat pelabuhan Sirik, Iran selatan.
Komando Pusat AS (CENTCOM), yang mengawasi operasi militer di Timur Tengah, menyatakan bahwa tindakan ini merupakan respons “kuat” terhadap perilaku berbahaya Iran yang dinilai merusak kebebasan navigasi di koridor perdagangan internasional yang vital. Pernyataan resmi CENTCOM menekankan bahwa serangan itu dilakukan untuk melindungi arus perdagangan global yang semakin bergantung pada jalur maritim di kawasan tersebut.
Tak lama setelah serangan AS, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengumumkan telah membalas dengan serangan terhadap instalasi militer AS di wilayah yang sama. Dalam pernyataan yang disiarkan kantor berita pemerintah IRNA, IRGC memperingatkan bahwa jika terjadi agresi berulang, tanggapan Iran akan “lebih luas” — sebuah sinyal yang mengindikasikan eskalasi potensial yang lebih besar.
Serangan balas-membalas ini mempertanyakan kelangsungan nota kesepahaman (MoU) gencatan senjata yang ditandatangani pada 17 Juni 2026 antara AS dan Iran. Kedua belah pihak saling menuduh melanggar kesepakatan tersebut, meski tidak ada rincian spesifik tentang pelanggaran apa yang dimaksud. Dengan serangan udara AS dan balasan IRGC, gencatan senjata yang sebelumnya dianggap rapuh kini nyaris runtuh.
Tidak ada laporan korban sipil atau kerusakan infrastruktur besar yang disebutkan dalam pernyataan resmi. Namun, eskalasi militer ini menandai titik balik kritis dalam ketegangan antara Washington dan Teheran, yang sebelumnya sempat menunjukkan tanda-tanda penurunan ketegangan pasca-MoU. Kini, dengan jet tempur siluman F-35A dan balasan militer Iran yang terkonfirmasi, kawasan itu kembali berada di ambang konflik terbuka.















