Home Berita Internasional Militer Rusia Ancam Arahkan Senjata ke Kremlin, Tuntut Keterbukaan Perang Ukraina

Militer Rusia Ancam Arahkan Senjata ke Kremlin, Tuntut Keterbukaan Perang Ukraina

Sumbawanews.com,- Tiga tahun lebih perang di Ukraina telah menggerogoti semangat dan kepercayaan di jajaran militer Rusia. Kini, ancaman pemberontakan tak lagi sekadar isu spekulatif—ia datang dari dalam, dari seorang mantan komandan batalion sukarelawan yang berani menyuarakan kegelisahan para prajurit dan pejabat tinggi militer.

Alexander Lunin, yang pernah memimpin pasukan di garis depan, mengunggah video viral di Instagram pada Jumat (26/6/2026), di mana ia menyampaikan pesan dari sekelompok perwira dan petinggi keamanan Rusia yang tak ingin disebutkan identitasnya. Dengan nada tegas, Lunin menyatakan: “Jika dalam waktu dekat saya tidak datang ke Kremlin dan berbicara langsung di samping Anda, tentara akan mengarahkan senjatanya ke Kremlin.”

Pernyataan itu bukan sekadar emosi sesaat. Ia adalah puncak dari kejenuhan yang telah lama mengendap. Para prajurit, menurut Lunin, telah lelah—lelah dengan rotasi tugas yang tak kunjung berakhir, lelah dengan perintah yang mengorbankan nyawa tanpa tujuan jelas, lelah dengan ketidaktransparanan pemerintah tentang kondisi sebenarnya di medan perang. Banyak yang dipaksa bertahan di zona pertempuran selama berbulan-bulan, tanpa istirahat memadai, tanpa perlengkapan cukup, dan tanpa kepastian bahwa perjuangan mereka memiliki makna.

Perang yang awalnya dirancang sebagai operasi kilat kini berubah menjadi konflik menguras sumber daya, manusia, dan moral. Korban jiwa terus bertambah, meski Kremlin menutup rapat data resmi. Laporan dari blogger militer dan media independen mengungkap keluhan serius: logistik amburadul, komando kacau, dan taktik yang mengorbankan prajurit biasa demi kepentingan politik. Kritik semacam ini, yang dulu bisa diredam, kini mulai menemukan suara—dan suara itu berbicara dengan ancaman.

Lunin tidak hanya menuntut kejujuran. Ia meminta Presiden Vladimir Putin untuk mengadakan pertemuan langsung dengan para pemimpin militer—dan membiarkan rakyat Rusia menyaksikannya secara langsung. Tujuannya sederhana namun revolusioner: membuka tabir kebenaran. “Rakyat berhak tahu apa yang sebenarnya terjadi,” ujarnya. “Bukan versi yang disusun di kantor-kantor elit.”

Ancaman ini mengingatkan pada pemberontakan Wagner tahun 2023, ketika Yevgeny Prigozhin memimpin pasukannya menuju Moskow. Tapi kali ini, ancamannya lebih dalam: bukan hanya satu kelompok bersenjata, melainkan jaringan luas yang mencakup jajaran perwira, petugas intelijen, dan prajurit lapangan yang merasa dikhianati oleh sistem yang mereka bela.

Putin, yang selama ini mempertahankan narasi kemenangan dan ketahanan nasional, kini menghadapi tantangan paling berbahaya: kehilangan legitimasi dari dalam. Jika militer—tulang punggung kekuasaannya—mulai mempertanyakan keabsahan perintahnya, maka stabilitas rezim tidak lagi dijamin oleh senjata, melainkan oleh kepercayaan.

Dan kepercayaan itu, kini, mulai retak.

Previous articleSudirman-Thamrin Ditutup, Warga Diminta Gunakan Rute Alternatif Saat HUT Jakarta
Next article24 Demonstran Ditangkap di Surabaya, KontraS Minta Pembebasan Segera