Sumbawanews.com,- Di tengah ketegangan yang berkepanjangan di Semenanjung Korea, Korea Selatan mengumumkan rencana besar untuk memperkuat pertahanan: pengadaan lebih dari 20.000 drone militer berbiaya rendah. Langkah ini diambil sebagai respons terhadap perkembangan pesat kemampuan pesawat tak berawak milik Korea Utara, yang kini dianggap sebagai ancaman nyata terhadap fasilitas militer, infrastruktur vital, bahkan sasaran sipil.
Menteri Pertahanan Ahn Gyu-back menyatakan bahwa konflik terkini di Ukraina dan Timur Tengah telah membuktikan bahwa drone berbiaya murah telah mengubah wajah perang modern. Dengan mengandalkan strategi massal daripada senjata mahal, Korsel berencana membangun keunggulan taktis melalui kawanan drone yang didukung kecerdasan buatan, termasuk drone bunuh diri (*loitering munitions*) dan sistem pengintai jarak pendek.
Pemerintah juga akan mempercepat pengerahan sistem K-LUCAS, senjata buatan dalam negeri yang dirancang meniru desain drone serang Shahed buatan Iran. Sistem ini akan dilengkapi dengan teknologi antidrone di garis depan mulai tahun depan, sambil terus mengembangkan senjata inovatif seperti laser dan gelombang mikro berkekuatan tinggi.
Dalam upaya menciptakan pasukan yang siap operasional, Kementerian Pertahanan menargetkan pelatihan 500.000 “prajurit drone” yang akan mengoperasikan drone sebagai senjata pribadi kedua. Untuk mendukung pelatihan, sekitar 60.000 drone komersial buatan lokal akan digunakan sebagai alat simulasi.
Satuan khusus Drone Operations Command, yang dibentuk pada 2023, akan direstrukturisasi menjadi Defence Drone Headquarters, menandai komitmen jangka panjang terhadap dominasi udara tak berawak. Rencana ini tidak hanya responsif terhadap ancaman, tetapi juga mencerminkan transformasi strategis militer Korsel dari pertahanan konvensional menuju perang berbasis teknologi rendah namun efektif secara massal.
Perang antara kedua Korea secara teknis belum berakhir—hanya dihentikan oleh gencatan senjata pada 1953. Dengan langkah ini, Korea Selatan menegaskan bahwa dalam era baru, kekuatan tidak lagi hanya diukur dari senjata berbiaya tinggi, tetapi dari kemampuan menggerakkan ribuan alat sederhana yang cerdas, cepat, dan mematikan.















