Sumbawanews.com,- Bagi pengguna Windows 10 dan 11, munculnya pesan “Preparing Automatic Repair” saat booting bukan sekadar gangguan teknis biasa—tapi tanda sistem sedang berjuang bertahan. Fitur pemulihan otomatis ini dirancang untuk menyelamatkan sistem ketika mendeteksi dua kegagalan boot berturut-turut, dengan memindai file startup, Boot Configuration Data (BCD), dan integritas disk melalui Windows Recovery Environment (WinRE). Namun, ketika proses ini gagal memperbaiki masalah, komputer justru terjebak dalam siklus tak berujung: restart, tampil pesan perbaikan, ulangi—tanpa pernah berhasil masuk ke desktop.
Penyebabnya beragam, mulai dari kerusakan file sistem akibat pembaruan yang terputus, BCD yang korup, hingga masalah hardware seperti SSD bermasalah atau RAM rusak. Gangguan listrik tiba-tiba, infeksi malware, atau partisi sistem yang penuh juga sering jadi pemicu. Bahkan, driver yang tidak kompatibel atau konfigurasi Secure Boot yang salah bisa memicu loop ini, terutama setelah upgrade sistem.
Gejalanya jelas: layar hitam dengan teks “Diagnosing your PC” yang tak bergerak, atau layar biru dengan pesan “Automatic Repair couldn’t repair your PC.” Dalam kondisi ini, pengguna tak bisa mengakses file, aplikasi, atau bahkan menu masuk—hanya tersisa opsi Restart atau Advanced Options yang tak menyelesaikan masalah.
Untuk keluar dari siklus ini, langkah pertama adalah hard reboot: matikan daya sepenuhnya, lepaskan semua perangkat eksternal, tunggu 60 detik, lalu nyalakan kembali. Jika gagal, masuk ke Advanced Options melalui media instalasi Windows atau tombol F8 saat boot. Dari sana, jalankan perintah berikut di Command Prompt:
– **sfc /scannow** untuk memperbaiki file sistem yang rusak
– **chkdsk /f /r /x C:** untuk memperbaiki kesalahan disk
– **bootrec /fixmbr**, **bootrec /fixboot**, **bootrec /scanos**, dan **bootrec /rebuildbcd** untuk membangun ulang BCD
Jika BCD tak bisa diperbaiki, coba pulihkan registry dari folder RegBack (jika tersedia). Untuk sementara, nonaktifkan Automatic Repair dengan perintah **bcdedit /set {current} recoveryenabled No**, agar sistem bisa masuk ke Safe Mode untuk troubleshooting lebih dalam. Jika masalah berasal dari firmware, perbarui BIOS/UEFI melalui situs resmi produsen motherboard. Nonaktifkan Secure Boot sementara jika dicurigai menjadi penghambat.
Langkah terakhir—jika semua gagal—adalah reset Windows. Pilih opsi “Keep my files” untuk menyelamatkan dokumen pribadi, atau “Remove everything” jika ingin sistem benar-benar bersih. Namun, sebelum melakukannya, pastikan data penting sudah diselamatkan dengan melepas hard drive dan menghubungkannya ke komputer lain.
Pencegahan jauh lebih efektif daripada penyembuhan. Pastikan pembaruan Windows berjalan hingga selesai tanpa gangguan, selalu sisakan minimal 15% ruang di partisi sistem, lakukan disk cleanup rutin, dan buat titik pemulihan sistem setiap bulan. Gunakan antivirus terpercaya, periksa kesehatan SSD/HDD dengan tools seperti CrystalDiskInfo, dan hindari mematikan daya saat proses update berjalan.
Automatic Repair bukanlah musuh—tapi peringatan. Ia adalah upaya terakhir Windows untuk menyelamatkan dirinya sendiri. Ketika ia gagal, bukan berarti sistem mati. Hanya berarti waktu untuk bertindak secara manual telah tiba.















