Home Berita Internasional Ibu Tak Bergerak, Anak 18 Tahun Gendong Ibu Selamat dari Reruntuhan Gempa...

Ibu Tak Bergerak, Anak 18 Tahun Gendong Ibu Selamat dari Reruntuhan Gempa Venezuela

Sumbawanews.com,- Rabu malam, 24 Juni 2026, Caracas bergetar. Dua gempa dahsyat—magnitudo 7,2 dan 7,5—mengguncang Venezuela dalam selang kurang satu menit, menghancurkan bangunan, memutus komunikasi, dan memaksa warga berlarian menyelamatkan diri. Di tengah kekacauan, seorang remaja berusia 18 tahun, Sebastian Rodriguez, menjadi simbol keberanian kecil di tengah bencana besar. Saat ibunya terpaku ketakutan, tak mampu bergerak, Rodriguez langsung menggendongnya keluar dari pusat perbelanjaan Centro Plaza di Los Palos Grandes—bangunan yang beruntung lolos dari keruntuhan, sementara sekitarnya hancur berkeping-keping.

“Sangat mengerikan. Bangunan berguncang seolah ingin menelan kita semua,” ujar Rodriguez, seperti dikutip *The Guardian*. “Ibu saya sampai tidak bisa berjalan. Saya tidak punya waktu untuk berpikir—saya hanya tahu, saya harus membawanya keluar.”

Gempa yang terkuat di Venezuela sejak 1900 itu menewaskan lebih dari 235 orang dan melukai lebih dari 4.300 lainnya, menurut data terkini. Di kawasan elit Altamira dan Los Palos Grandes, tiga gedung bertingkat ambruk seperti kartu domino. Di Catia, permukiman kelas pekerja yang sudah lama terpuruk oleh krisis ekonomi, dinding rumah runtuh, atap bocor, dan air merembes masuk. Jose Luis, seorang guru pendidikan jasmani, memilih tidur di jalan dengan alas kardus. “Kalau gempa lagi seperti tadi, rumah ini pasti roboh. Itu yang kami takutkan,” katanya.

Di pesisir utara, kondisi lebih memprihatinkan. Bandara internasional La Guaira lumpuh, atap terminal runtuh, dan puluhan gedung—termasuk hotel di tepi pantai—hancur. Video di media sosial menunjukkan penumpang berlarian di tengah debu dan puing, sementara jalur komunikasi terputus membuat nasib ribuan warga di kawasan Catia La Mar masih menjadi misteri. Di antara nama-nama yang hilang: Brayne, bocah delapan tahun; Miranda, anak perempuan lima tahun; dan lima anggota keluarga yang tak lagi terdengar kabarnya.

Namun, di tengah duka, harapan masih menyala. Pada pukul 01.30 dini hari, tim penyelamat berhasil mengevakuasi tiga bersaudara yang terjebak di bawah reruntuhan di La Guaira. “Tuhan, Engkau Maha Besar!” teriak seorang warga saat mereka dikeluarkan—masih hidup, masih bernapas.

Di tengah semua ini, pernyataan mantan Presiden Amerika Serikat Donald Trump menjadi sorotan. Melalui media sosial, ia menulis: “Akan ada jumlah korban jiwa yang sangat besar. Kami akan berada di sana untuk teman-teman baru kami yang luar biasa.” Pernyataan itu mengingatkan publik pada insiden 3 Januari lalu, ketika pasukan AS melakukan operasi militer singkat untuk menangkap Presiden Venezuela Nicolás Maduro—serangan yang merusak infrastruktur pertahanan pesisir dan memperparah kerentanan bangunan di kawasan itu.

Kini, Venezuela menghadapi bencana ganda: alam yang ganas, dan struktur bangunan yang rapuh akibat dekade krisis. Di tengah reruntuhan, kisah Sebastian Rodriguez bukan sekadar keajaiban—ia adalah bukti bahwa dalam kehancuran, keberanian manusia bisa jadi satu-satunya fondasi yang masih utuh.

Previous articleKorea Selatan Gagal Lawan Afrika Selatan, Son Heung-min Menyesal Tak Bisa Menyelamatkan Tim
Next articleKepuasan Peserta Taspen Tembus 98,7 pada 2025, Rekor Tertinggi