Sumbawanews.com,- Polisi masih mengejar pria berinisial M, pelaku pelemparan bom molotov di wilayah Koja, Jakarta Utara, yang berujung pada kecelakaan tragis: seorang ibu yang tengah menggendong anaknya menjadi korban salah sasaran.
Kapolsek Koja, Andry Suharto, mengonfirmasi bahwa rumah pelaku dan sejumlah titik strategis telah digeledah, namun hingga kini M belum juga ditemukan. “Pencarian terus kami intensifkan ke lokasi-lokasi lain yang kemungkinan menjadi tempat persembunyiannya,” ujar Andry, Rabu (24/6/2026).
Insiden itu terjadi ketika pelaku, yang diduga didorong oleh dendam pribadi, sengaja melempar bom molotov ke arah paman mantan istrinya, berinisial K. Namun, lemparan itu gagal mengenai sasaran. Sebaliknya, seorang ibu yang sedang melintas di sepeda motor bersama anaknya menjadi korban tak bersalah.
“Pelaku menargetkan K, tapi saat itu korban lewat di lokasi yang sama. Itu murni kecelakaan, bukan niat membahayakan ibu dan anak itu,” jelas Andry, menegaskan bahwa korban sama sekali tidak terlibat dalam konflik pribadi pelaku.
Kasus ini memicu kecaman luas dari masyarakat dan aparat keamanan, mengingat kekerasan dengan senjata improvisasi seperti bom molotov tidak hanya melanggar hukum, tetapi juga membahayakan nyawa warga sipil. Polisi kini menggali jejak digital dan rekaman kamera pengawas untuk melacak pergerakan pelaku sebelum dan sesudah kejadian.
Pemerintah setempat juga meminta warga untuk tetap tenang dan tidak menyebar informasi tidak verifikasi. “Kami yakin pelaku akan tertangkap. Ini bukan kasus biasa—ini ancaman nyata terhadap keamanan publik,” tegas Andry.
Sementara itu, korban yang mengalami luka ringan akibat ledakan dan percikan api kini dalam pemulihan di rumah sakit setempat, didampingi keluarga dan tim medis. Anaknya, yang ikut terluka, dalam kondisi stabil.
Pihak kepolisian belum mengungkap motif lebih dalam di balik dendam pelaku, tetapi indikasi awal mengarah pada konflik rumah tangga yang berlarut-larut dan tidak terselesaikan. Penyidik juga mempertimbangkan kemungkinan adanya pengaruh emosional ekstrem yang memicu tindakan nekat.
Masyarakat di sekitar Koja diminta waspada dan segera melaporkan setiap kejadian mencurigakan. Polisi menegaskan, tidak ada toleransi terhadap kekerasan yang mengorbankan nyawa orang tak bersalah—terlepas dari latar belakang motornya.















