Sumbawanews.com,- Foxborough — Timnas Inggris harus menerima kenyataan pahit setelah ditahan imbang 0-0 oleh Ghana dalam laga kedua Grup L Piala Dunia 2026 di Gillette Stadium. Hasil ini menggagalkan ambisi The Three Lions untuk melangkah mantap ke babak gugur, sekaligus memperlihatkan retaknya dominasi mereka di atas lapangan.
Seusai menang telak 4-2 atas Kroasia di laga pembuka, Inggris tiba-tiba kehilangan daya tembus. Meski menguasai bola hingga 68 persen, mereka hanya mampu melepaskan tiga tembakan tepat sasaran dalam 90 menit—jumlah terendah sepanjang sejarah timnas Inggris di Piala Dunia saat memiliki penguasaan bola sebesar itu tanpa mencetak gol. Tendangan melenceng, umpan gagal, dan kurangnya kreativitas di lini depan menjadi gambaran nyata kekalahan taktis.
Paul Merson, mantan pemain Arsenal dan analis Sky Sports, tak segan menyebutnya sebagai “tamparan kenyataan.” “Anda tidak bisa mencetak empat gol setiap pertandingan. Yang lebih penting, Anda harus mampu menembus pertahanan yang disiplin. Ghana bermain bertahan, tapi Inggris justru mempermudah mereka melakukannya,” ujar Merson. “Lebih baik menghadapi ini di awal turnamen, bukan di final.”
Thomas Tuchel, pelatih Inggris, tampak frustrasi saat timnya gagal memanfaatkan peluang emas dari Jude Bellingham dan Bukayo Saka. Kehilangan kecepatan dan kejelian di area kotak penalti membuat lini serang yang sebelumnya mematikan menjadi datar dan mudah dibaca. Sementara itu, Ghana—meski minim penguasaan bola—tampil disiplin, kompak, dan nyaris sempurna dalam pertahanan berlapis.
Dengan hasil ini, Inggris dan Ghana sama-sama mengumpulkan empat poin, bersaing ketat di puncak Grup L. Kroasia tertinggal satu poin, sementara Panama—yang sudah pasti tersingkir—menjadi lawan penentu nasib Inggris pada laga terakhir, 28 Juni mendatang. Kemenangan atas Panama bukan lagi pilihan, tapi keharusan.
Pertandingan ini bukan sekadar gagal mencetak gol. Ini adalah peringatan: dominasi bola tidak selalu berarti keunggulan. Di panggung Piala Dunia, ketajaman, keberanian, dan kecerdasan taktis jauh lebih menentukan daripada statistik yang mengkilap. Inggris, yang dianggap salah satu favorit juara, kini harus segera bangkit—atau risiko besar akan menghampiri.















