Sumbawanews.com,- Duta Besar Rusia untuk ASEAN, Evgeny Zagaynov, menegaskan bahwa Moskow melihat potensi besar dalam memperluas kerja sama ekonomi dengan kawasan Asia Tenggara, khususnya di sektor energi dan ekonomi digital. Dalam briefing pers di Jakarta, Rabu (24/6/2026), Zagaynov menyatakan bahwa target perdagangan senilai US$100 miliar antara Rusia dan ASEAN—yang diumumkan dalam Forum Bisnis Rusia-ASEAN di Kazan—masih menjadi tujuan ambisius, meski jaraknya masih jauh dari capaian saat ini yang baru menyentuh US$20 miliar.
Zagaynov mengakui bahwa hambatan geopolitik dan sanksi internasional terhadap Rusia telah memperlambat percepatan kerja sama ekonomi. Namun, ia menekankan bahwa tantangan ini bukanlah penghalang tak teratasi. “Pembatasan yang diberlakukan bukan hanya memengaruhi Rusia, tetapi juga mengganggu kemampuan kami untuk berkontribusi pada pembangunan kawasan,” ujarnya.
Untuk mengatasi kendala logistik dan keuangan, Rusia mendorong pengembangan sistem pembayaran alternatif yang independen dari infrastruktur keuangan Barat. Menurut Zagaynov, kolaborasi dalam skema keuangan baru menjadi kunci untuk mempertahankan dan memperdalam hubungan ekonomi yang saling menguntungkan.
Sektor energi menjadi fokus utama. Rusia, dengan keunggulan dalam produksi minyak, gas alam, dan teknologi nuklir, menawarkan diri sebagai mitra strategis dalam transisi energi kawasan. “Kami memiliki pengalaman panjang dalam pembangunan infrastruktur energi, termasuk reaktor nuklir untuk keperluan listrik dan industri,” jelas Zagaynov. Ia mencontohkan kerja sama yang sudah berjalan di Malaysia dan Indonesia, yang kini tengah memperluas kemitraan dalam energi bersih dan teknologi nuklir sipil.
Selain energi, ekonomi digital menjadi bidang menjanjikan lainnya. Rusia, yang telah membangun sistem keamanan siber dan platform digital nasional yang matang, siap berbagi keahlian dalam pengembangan infrastruktur digital, layanan pemerintahan berbasis teknologi, serta keamanan data. “Kami memiliki keahlian yang signifikan di bidang ini, dan ASEAN adalah pasar yang sangat dinamis,” tambahnya.
Namun, Zagaynov tidak menghindari kritik terhadap tekanan dari negara-negara Barat. Ia menuding adanya upaya sistematis untuk mengisolasi Rusia dari mitra-mitra strategis di Global South. “Mereka mengancam mitra kami dengan sanksi sekunder—tindakan yang tidak sah dan melanggar prinsip kedaulatan ekonomi negara-negara berkembang,” tegasnya. Menurutnya, upaya ini justru mendorong Rusia dan ASEAN untuk semakin memperkuat kemitraan berbasis saling percaya dan kepentingan bersama.
Meski jarak geografis dan kompleksitas logistik menjadi tantangan teknis, Zagaynov optimistis bahwa hubungan historis dan komitmen politik antara Rusia dan negara-negara ASEAN akan terus menjadi fondasi kuat. “Kami telah bekerja sama selama puluhan tahun. Kami tahu cara mengatasi hambatan. Yang kini dibutuhkan adalah keberanian untuk melangkah melewati tekanan eksternal,” pungkasnya.
Dengan posisi strategis sebagai negara penghasil energi dan kekuatan teknologi di Eurasia, Rusia kini semakin jelas menempatkan ASEAN sebagai mitra kunci dalam strategi ekonomi luar negerinya—bukan hanya sebagai pasar, tetapi sebagai mitra dalam membentuk tatanan ekonomi global yang lebih beragam dan independen.















