Sumbawanews.com,- Jakarta – Rusia menyatakan siap melanjutkan perundingan damai dengan Ukraina berdasarkan draf kesepakatan yang pernah disusun pada 2022, meski menyalahkan Barat atas gagalnya proses perdamaian yang sempat hampir terwujud.
Duta Besar Rusia untuk Indonesia, Sergey Tolchenov, mengungkapkan bahwa pada akhir Maret hingga April 2022, tim perunding kedua belah pihak telah menyelesaikan rancangan perjanjian damai dan bahkan menandatangani drafnya. Namun, penandatanganan resmi tidak terjadi karena, menurutnya, tekanan dari Barat—terutama dari mantan Perdana Menteri Inggris Boris Johnson—yang mendorong Ukraina untuk melanjutkan perang.
“Kami siap melanjutkan diskusi berdasarkan kesepakatan yang sudah ada,” tegas Tolchenov dalam jumpa pers di Jakarta, Rabu (24/6/2026). “Ini bukan soal keinginan kami, tapi soal keinginan pihak lain.”
Tolchenov menegaskan bahwa Presiden Vladimir Putin telah membuka pintu untuk bertemu Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy di Moskow, jika Zelenskyy bersedia datang. Namun, ia menilai upaya perdamaian akan sulit terwujud selama negara-negara Eropa terus memompa dukungan militer ke Kiev, dengan tujuan “menghabisi tentara Ukraina terakhir.”
Rusia, lanjutnya, tidak menginginkan gencatan senjata sementara atau kesepakatan yang hanya memberi Ukraina waktu untuk memulihkan kekuatan. Yang diinginkan Moskow adalah perjanjian komprehensif dan berkelanjutan yang mengakomodasi kepentingan keamanan nasional Rusia.
Beberapa poin utama yang harus tercantum dalam kesepakatan itu, menurut Tolchenov, meliputi: penolakan terhadap keberadaan pangkalan NATO di Ukraina, status Ukraina sebagai negara non-nuklir dan non-blok militer, perlindungan hak-hak minoritas etnis dan berbahasa Rusia, serta pengakuan atas wilayah-wilayah yang kini berada di bawah kendali Rusia—termasuk Krimea, Kherson, Donetsk, Luhansk, dan Zaporozhye.
“Tidak ada pertanyaan tentang wilayah-wilayah itu. Semua itu harus menjadi bagian dari kesepakatan,” ujarnya. “Kami siap. Tapi jangan tanya kami—tanyakan kepada pihak yang menolak berdialog.”
Pernyataan ini muncul di tengah meningkatnya tekanan diplomatik global terhadap Rusia, sementara Ukraina terus menerima bantuan senjata dari sekutu Barat. Tolchenov menekankan bahwa perdamaian tidak bisa dipaksakan oleh satu pihak—ia membutuhkan komitmen bersama.
“Jika satu pihak ingin damai, tapi pihak lain ingin perang, bagaimana mungkin ada kesepakatan?” tanyanya. “Kami sudah menawarkan jalan keluar. Sekarang giliran mereka untuk memilih.”















