Sumbawanews.com,- Dubes Cina untuk Indonesia, Wang Lutong, menyatakan bahwa pembahasan restrukturisasi utang proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung (Whoosh) masih berlangsung dan berjalan sesuai jadwal, meskipun rincian kesepakatan belum dapat diumumkan. Pernyataan itu disampaikannya usai menghadiri Forum Think Tank dan Media FPCI China-Indonesia di Kuningan, Jakarta, pada Rabu, 24 Juni 2026.
Wang menekankan bahwa komunikasi antara pemerintah Indonesia dan Cina tetap terjaga erat, dengan keterlibatan aktif dari kementerian terkait dan lembaga keuangan. “Semuanya berlangsung dengan baik,” katanya, menolak memberikan detail lebih lanjut karena proses negosiasi belum final. “Masih belum memungkinkan untuk menyampaikan rinciannya di tengah diskusi yang berjalan. Yang pasti, semuanya berjalan sesuai rencana.”
Pernyataan ini menyelaraskan dengan sejumlah indikasi sebelumnya dari pejabat Indonesia. Pada April lalu, Chief Operating Officer Danantara, Dony Oskaria, mengatakan kajian teknis dan finansial telah selesai, dan proses kini memasuki tahap formal—termasuk penandatanganan dokumen. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa juga menyebut negosiasi “sudah kelar” dan hasilnya telah disampaikan ke pihak Cina, meski ia enggan mengungkap skema restrukturisasi yang disepakati.
“Kita berapa persen, mereka (Cina) berapa persen bayarnya, gitu kan. Jadi sama-sama agak menderita,” ujar Purbaya pada 22 April 2026, menggambarkan prinsip pembagian beban yang saling menghargai.
Proyek Whoosh, yang mulai dibangun pada 2016, menelan total biaya sekitar US$7,2 miliar atau Rp120 triliun. Sebanyak 75 persen pendanaannya berasal dari pinjaman China Development Bank, sementara 25 persen sisanya berasal dari ekuitas PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC). Pembengkakan biaya sebesar US$1,21 miliar menjadi salah satu pemicu utama permintaan restrukturisasi utang oleh pemerintah Indonesia.
Struktur kepemilikan KCIC sendiri terbagi: 60 persen dimiliki oleh konsorsium Pilar Sinergi BUMN Indonesia (PSBI), dan 40 persen oleh konsorsium Tiongkok, Beijing Yawan HSR Co Ltd. Dengan demikian, restrukturisasi ini bukan hanya soal utang, tetapi juga menyangkut keseimbangan kepentingan strategis dan ekonomi antara dua negara.
Meski belum ada pengumuman resmi, sinyal-sinyal dari kedua belah pihak menunjukkan adanya kesepahaman politik yang kuat. Kedua negara tampak berkomitmen untuk menyelesaikan proses ini tanpa merusak hubungan bilateral, terutama di tengah meningkatnya kerja sama di sektor infrastruktur, teknologi, dan investasi hijau.
Dengan operasional Whoosh yang sudah berjalan sejak 2023, langkah restrukturisasi ini diharapkan tidak hanya meringankan beban fiskal Indonesia, tetapi juga memperkuat fondasi jangka panjang kemitraan ekonomi Indonesia-Cina. Proses yang kini memasuki tahap akhir ini menjadi indikator penting bagaimana negara berkembang menavigasi utang besar infrastruktur dalam konteks geopolitik yang semakin kompleks.















