Sumbawanews.com,- Jakarta – Kerja sama strategis antara Indonesia dan Jepang kini meluas ke sektor transportasi, logistik, dan perikanan, membuka pintu bagi ribuan tenaga kerja Indonesia untuk membangun karier di Negeri Sakura. Dalam rangkaian kesepakatan yang ditandatangani pada Juni 2026, pemerintah kedua negara memperkuat kolaborasi melalui sejumlah MoU, PKS, dan MoC yang dirancang untuk memenuhi kebutuhan tenaga ahli di Jepang yang kian mendesak akibat penuaan populasi.
Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Perhubungan (BPSDMP) Kementerian Perhubungan RI dan Japan Railway Technical Service (JARTS) menandatangani Memorandum of Understanding di Jakarta pada 9 Juni 2026, menjadi fondasi baru dalam penempatan tenaga kerja Indonesia di sektor perkeretaapian. Program Specified Skilled Worker (SSW) yang sebelumnya sukses meluluskan 23 dari 25 peserta pada 2025 kini diperluas: 113 calon tenaga kerja Indonesia telah dipersiapkan untuk tahun 2026, dengan 98 di antaranya (87 persen) dinyatakan lulus ujian dan siap ditempatkan di perusahaan kereta api wilayah Jepang Timur mulai musim panas mendatang.
Tak hanya perkeretaapian, kerja sama ini menjangkau transportasi darat dan logistik. Hingga kini, 20 lulusan Indonesia telah bekerja sebagai pengemudi bus di operator ternama seperti Tokyo Bus, Osaka Bus, dan Meitetsu Bus. Sementara 15 lainnya telah menempati posisi sebagai pengemudi truk dan tenaga logistik. Lebih dari 99 calon pekerja kini tengah menjalani pelatihan intensif menjelang keberangkatan.
Di sektor logistik, SBS Group—salah satu raksasa logistik terbesar di Jepang yang mengelola distribusi kargo, pergudangan, dan layanan 3PL/4PL—menandatangani Memorandum of Cooperation dengan Politeknik Transportasi Darat dan Transportasi (PTDI–STTD) Bekasi. Kunjungan delegasi SBS ke Indonesia pada 11–12 Juni lalu menandai komitmen nyata untuk membangun pipeline tenaga kerja terampil dari Indonesia.
Di bidang perikanan, KBRI Tokyo memfasilitasi pertemuan antara Prefektur Miyazaki dan Pusat Pendidikan Kelautan dan Perikanan (Pusdik KP) Kementerian Kelautan dan Perikanan. Delegasi Miyazaki menyampaikan kebutuhan mendesak akan tenaga kerja di sektor perikanan laut, terutama dalam penangkapan ikan, pengolahan, dan distribusi hasil laut. Ini menjadi langkah pertama dalam rencana penempatan sistematis tenaga kerja Indonesia di wilayah pesisir Jepang.
Duta Besar RI untuk Jepang, Nurmala Kartini Sjahrir, menegaskan bahwa kerja sama ini bukan sekadar penyaluran tenaga kerja, tetapi investasi jangka panjang dalam pengembangan kapasitas sumber daya manusia Indonesia. “Melalui MoU dengan JARTS, PKS dengan PPI Madiun dan ITL Trisakti, serta MoC dengan SBS Group, kita membangun jembatan kompetensi yang berkelanjutan,” ujarnya dalam siaran pers KBRI Tokyo.
Sebagai bagian dari implementasi, JARTS akan menyelenggarakan pelatihan bahasa Jepang intensif bagi 35–40 mahasiswa akhir dan lulusan dari tiga institusi pendidikan transportasi Indonesia, yang dimulai pada musim gugur 2026. Program ini mencakup pelatihan teknis perkeretaapian, pemahaman budaya kerja Jepang, dan simulasi lingkungan kerja nyata.
Rangkaian kesepakatan ini merupakan hasil koordinasi intensif antara pemerintah, lembaga pendidikan, dan dunia usaha kedua negara, difasilitasi oleh KBRI Tokyo. Dengan fokus pada kualitas, kesesuaian kompetensi, dan keberlanjutan, kerja sama ini tidak hanya menjawab kebutuhan pasar tenaga kerja Jepang, tetapi juga meningkatkan daya saing tenaga kerja Indonesia di kancah global.















