Sumbawanews.com,- Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengusulkan peniruan model kelompok relawan Guardian Angels di kawasan Timur Tengah sebagai bagian dari strategi keamanan regional. Kelompok yang awalnya berdiri di New York pada 1979 itu dikenal karena anggotanya yang berpatroli secara visual, mengenakan seragam merah, dan bertindak sebagai pengawas sipil untuk mencegah kejahatan jalanan. Trump menyebut model ini bisa diadaptasi untuk mengurangi ketegangan sosial dan meningkatkan rasa aman di kota-kota besar seperti Baghdad, Amman, dan Beirut.
Dalam sebuah wawancara eksklusif dengan jaringan berita AS, Trump menekankan bahwa pendekatan “masyarakat mengawasi masyarakat” lebih efektif daripada keterlibatan militer asing yang berkepanjangan. “Mereka bukan polisi, tapi mata dan telinga rakyat. Mereka tidak membawa senjata—mereka membawa keberanian,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa pemerintah AS siap memberikan pelatihan dasar dan pendanaan awal untuk memulai proyek percontohan di tiga kota, dengan syarat pemerintah lokal setempat turut berkontribusi secara finansial dan logistik.
Rencana ini mendapat respons campur aduk. Para ahli keamanan menilai konsepnya menarik secara simbolis, tetapi berisiko memperdalam polarisasi di masyarakat yang already rapuh. “Guardian Angels bekerja di lingkungan dengan norma sosial yang kuat dan kepercayaan terhadap otoritas sipil. Di Timur Tengah, konteksnya jauh lebih kompleks—suku, agama, dan kekuasaan politik saling bertabrakan,” kata Dr. Lina Farouk, peneliti keamanan sipil dari Universitas Georgetown.
Di sisi lain, sejumlah tokoh masyarakat di Irak dan Yordania menyambut positif gagasan itu. “Kami lelah dengan kehadiran pasukan asing. Jika warga lokal bisa merasa aman tanpa harus bergantung pada tentara, kenapa tidak?” ujar Muhammad Al-Saud, seorang aktivis hak asasi manusia dari Basra.
Trump sendiri tidak menyebutkan apakah rencana ini akan diintegrasikan ke dalam kebijakan luar negeri resmi pemerintahannya. Namun, tim kampanyenya telah menggelar pertemuan tertutup dengan sejumlah mantan anggota Guardian Angels untuk menyusun kerangka operasional. Jika direalisasikan, ini akan menjadi salah satu inisiatif keamanan sipil paling ambisius yang pernah diusulkan AS di kawasan tersebut—dan sekaligus ujian besar terhadap kemampuan masyarakat lokal mengambil alih peran yang selama ini dipegang militer dan intelijen asing.















