Sumbawanews.com,- Seorang aktor terkenal yang memerankan tokoh ikonik dalam film “Preman Pensiun” menjadi korban salah identifikasi saat sedang berada di sebuah kawasan permukiman di Jakarta Timur. Ia sempat dikerumuni dan dikeplak oleh seorang anggota polisi yang mengira dirinya adalah seorang tersangka buronan (DPO) dengan kemiripan wajah yang mencurigakan.
Kejadian itu bermula saat pria berusia 52 tahun tersebut, yang dikenal luas lewat perannya sebagai tokoh kharismatik bernama “Pak Dukun”, tengah berjalan kaki menuju warung kopi dekat rumahnya. Tanpa diduga, dua petugas kepolisian yang sedang melakukan patroli mendekat, lalu langsung menghentikannya. Salah satu petugas, yang sedang memeriksa daftar DPO di ponselnya, langsung menunjuk ke wajah sang aktor dan berseru, “Itu dia! Tersangka kasus penggelapan uang negara!”
Tanpa prosedur verifikasi lebih lanjut, petugas itu langsung mengeplak bahu aktor itu—sebuah tindakan yang menurut saksi mata, dilakukan sebagai bentuk pengendalian fisik sekaligus tanda pengakuan. Aktor itu sempat terkejut, lalu berusaha menjelaskan identitasnya, “Saya bukan tersangka, saya aktor. Saya yang main di Preman Pensiun!”
Saat itu, petugas masih ragu. Baru setelah aktor itu menunjukkan KTP dan mengajak petugas melihat akun Instagram resminya yang memiliki jutaan pengikut, barulah kesalahpahaman itu terungkap. Petugas yang bersangkutan langsung meminta maaf secara terbuka, bahkan meminta foto bersama sebagai bentuk permintaan maaf.
Kepolisian setempat kemudian mengeluarkan pernyataan resmi yang menyatakan bahwa insiden itu terjadi karena “kesalahan teknis dalam verifikasi data visual DPO yang belum diperbarui.” Mereka menegaskan bahwa prosedur penangkapan harus selalu mengutamakan verifikasi identitas, terlepas dari kemiripan fisik.
Aktor tersebut, yang kini aktif dalam gerakan sosial pemberdayaan pemuda, tidak mempermasalahkan kejadian itu. Ia justru memanfaatkan momen ini untuk mengingatkan publik tentang pentingnya kehati-hatian dalam penegakan hukum. “Kemiripan wajah bukan bukti bersalah. Kita harus berhati-hati agar keadilan tidak jadi korban prasangka,” ujarnya dalam wawancara singkat setelah kejadian.
Insiden ini pun menjadi perbincangan hangat di media sosial, dengan banyak warganet yang membagikan video singkat kejadian itu, sambil mengomentari betapa mudahnya seseorang bisa disalahkenali di era digital—terutama ketika algoritma dan data visual belum sepenuhnya akurat.















