Sumbawanews.com,- Andy Burnham kembali menjadi pusat perhatian politik Inggris setelah memenangkan pemilihan sela di daerah Makerfield pada 19 Juni 2026, membuka jalan baginya untuk memperebutkan kursi pemimpin Partai Buruh. Kemenangan telaknya dengan selisih lebih dari 9.000 suara—mengalahkan kandidat Reform UK—tidak hanya menandai kembalinya ia ke Parlemen setelah delapan tahun meninggalkan Westminster, tetapi juga memperkuat posisinya sebagai calon terkuat menggantikan Keir Starmer yang baru saja mengundurkan diri.
Burnham, yang pernah dua kali gagal menjadi pemimpin Partai Buruh—pertama kalah dari Ed Miliband pada 2010, lalu dari Jeremy Corbyn pada 2015—kini tampil dengan kredibilitas baru. Ia bukan lagi sekadar politikus Westminster, tapi sosok yang dikenal sebagai “King of the North” berkat keberhasilannya memimpin Greater Manchester sebagai wali kota sejak 2017. Di bawah kepemimpinannya, wilayah itu menjadi yang pertama di luar London mengembalikan kendali bus ke tangan publik melalui jaringan Bee Network, serta berkomitmen mengatasi masalah tunawisma meski target itu belum sepenuhnya tercapai.
Lahir di Liverpool pada 1970 dari keluarga pekerja kelas menengah, Burnham tertarik pada politik sejak usia 14 tahun setelah menyaksikan drama BBC *Boys from the Blackstuff*, yang menggambarkan penderitaan masyarakat pengangguran di utara Inggris. Ia lulus dari Universitas Cambridge dengan gelar Sastra Inggris, dan meski merasa menjadi “orang luar” di lingkungan elit kampus, musik indie dari Manchester—terutama The Smiths dan The Stone Roses—menjadi jembatan yang membangun identitas dan kepercayaan dirinya.
Karier parlementer dimulai pada 2001 setelah ia terpilih mewakili Leigh. Di era pemerintahan Tony Blair dan Gordon Brown, ia menjabat sejumlah kementerian strategis: Kepala Sekretaris Perbendaharaan, Menteri Kebudayaan, dan Menteri Kesehatan. Salah satu momen paling berdampak dalam kariernya adalah ketika ia mengangkat kembali isu Tragedi Hillsborough—kematian 97 pendukung Liverpool akibat kekacauan pada 1989—yang akhirnya memicu penyelidikan ulang dan pengakuan atas kegagalan sistemik pemerintah.
Meski dikenal sebagai politikus moderat, Burnham pernah mempertahankan posisinya di kabinet bayangan Jeremy Corbyn meski banyak rekan separtai mundur sebagai bentuk protes. Ia juga mendukung nasionalisasi sektor air dan energi, menunjukkan pergeseran ideologis yang halus namun signifikan. Pada referendum Brexit, ia jelas mendukung Inggris tetap di Uni Eropa, bahkan menyatakan harapan bahwa negaranya suatu hari nanti akan kembali bergabung.
Pandangannya yang vokal terhadap ketidakadilan regional membuatnya menjadi suara kuat bagi Inggris Utara. Selama pandemi, ia terbuka mengecam pemerintah pusat karena dianggap “merendahkan” wilayah utara dengan kebijakan pembatasan yang diskriminatif. Sikap ini memperkuat citranya sebagai pemimpin yang tidak takut melawan pusat kekuasaan.
Kini, dengan dukungan dari Wes Streeting—mantan Menteri Kesehatan yang sebelumnya dianggap sebagai calon utama—Burnham berada di puncak gelombang keinginan Partai Buruh untuk kembali ke akar sosial-demokratiknya. Ia bukan sekadar pengganti sementara, tapi simbol harapan bagi mereka yang merindukan kepemimpinan yang memahami penderitaan kelas pekerja, bukan hanya kebijakan yang dirancang di kantor elit London.
Dengan kemenangan di Makerfield, Burnham telah mengubah dari politikus yang pernah gagal menjadi figur yang tak bisa diabaikan. Jika Partai Buruh ingin bangkit kembali, mungkin jalan terbaiknya justru berjalan melalui pria yang pernah jatuh, tapi tak pernah berhenti berdiri.















