Sumbawanews.com,- Di tengah lonjakan kebutuhan menjelang akhir tahun ajaran, banyak keluarga terjebak dalam pusaran utang konsumtif—terutama melalui pinjaman online (pinjol) yang menawarkan kemudahan instan. Momen libur sekolah, yang seharusnya menjadi waktu untuk rekreasi dan pemulihan, justru berubah menjadi ujian finansial ketika orang tua tergoda meminjam dana demi memenuhi kebutuhan liburan, biaya pendaftaran ulang, atau bahkan sekadar membeli perlengkapan sekolah baru.
Direktur Utama PT Lentera Dana Nusantara, Jonathan Christianto, menekankan bahwa kunci utama menghindari jebakan utang bukan pada suku bunga rendah, melainkan pada transparansi. “Banyak konsumen terkejut saat mengetahui biaya administrasi, denda keterlambatan, atau biaya asuransi tersembunyi yang membuat cicilan membengkak hingga 2-3 kali lipat dari yang dijanjikan,” ujarnya, dikutip dari Antara, Senin (22/6/2026).
Sejumlah penyedia pinjol berizin, seperti SPinjam, mulai merespons dengan kampanye “Jelas Tanpa Jebakan”—menghapus biaya tersembunyi dan menawarkan bunga tetap 1,8% per bulan (0,06% per hari) tanpa biaya administrasi. Dengan simulasi yang jelas, nasabah bisa memperkirakan cicilan: misalnya, pinjaman Rp1,5 juta selama tiga bulan akan dibayar Rp527 ribu per bulan, atau Rp277 ribu jika diperpanjang hingga enam bulan.
Proses pengajuan pun kini sangat cepat—hanya lima menit melalui aplikasi, dengan verifikasi KTP, wajah, dan OTP. Namun, kecepatan ini justru menjadi racun jika tidak diimbangi kesadaran finansial. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terus mengingatkan: kemudahan teknologi bukan alasan untuk mengabaikan logika. “Jangan biarkan kecepatan aplikasi mematikan kecerdasan keuangan Anda,” tegas OJK dalam pernyataan resminya.
Data terbaru menunjukkan, total utang pinjol nasional telah menembus Rp101 triliun, naik 26,2% dalam setahun. Di sisi lain, Satgas PASTI mencatat lebih dari 950 platform pinjol ilegal masih beroperasi, sering kali memanfaatkan momen-momen rentan seperti libur sekolah untuk menarik korban baru.
Pengamat keuangan, Yuslianson, menyarankan agar masyarakat memprioritaskan anggaran keluarga sebelum memutuskan meminjam. “Libur sekolah bukan alasan untuk berutang. Ini saatnya berkreasi—mengatur ulang anggaran, memanfaatkan program subsidi, atau bahkan berbagi biaya dengan keluarga lain. Utang adalah solusi terakhir, bukan pilihan pertama.”
Di era di mana satu klik bisa mengubah hidup, disiplin justru menjadi senjata paling ampuh. Karena di balik tawaran “cepat, mudah, tanpa jaminan”, seringkali tersembunyi beban yang jauh lebih berat: utang yang menggulung, tekanan psikologis, dan keluarga yang terjebak dalam siklus tak berujung.















